Jumat, 18 Mei 2018
Tentang Puteriku (Anugerah di Pulau Bacan)
Senin, 03 April 2017
GALAU KARENA "KERE" DALAM RUMAH TANGGA BARU
Sebuah solusi tentu sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan rumah tangga baru ini. Manajemen keuangan yang baik solusi terbaiknya. Tapi bagaimanakah itu manajemen keuangan yang baik? Tidak semua orang khusunya wanita sebagai ibu rumah tangga pengelola keuangan mampu melakukan manajemen keuangan yang baik. Sebuah cara saya akan coba tawarkan di sini yaitu meminimalisir pengeluaran konsumtif untuk pengeluaran produktif. Yang seperti apakah pengeluaran konsumtif dan pengeluaran produktif itu? Pengeluaran konsumtif ada pengeluaran untuk hal-hal yang bersifat konsumtif, habis pakai habis manfaat dan tidak memberikan nilai tambah yang berarti atas penggunaannya, dan pengertian sebaliknya untuk pengeluaran produktif. Dalam hal ini kita harus pandai-pandai memilah-milah mana pengeluaran yang memang harus terjadi. Untuk lebih jelas saya akan mencontohkan pengeluaran rutin dalam rumah tangga saya hehehe.
Biaya-biaya rutin yang keluar setiap bulan seperti kebutuhan anak (susu formula, pampers, telon, sabun, bedak, dll), kebutuhan rumah (sembako, dll), biaya listrik, biaya pulsa handphone, biaya makan siang di kantor, biaya jalan-jalan seminggu sekali, biaya bbm (mobil dan motor), ditambah cicilan rumah dan kendaraan. Hiksss....banyak banget ya pengeluaran bulanan. :(... Selanjutnya kita kelompokkan untuk pengeluaran yang memang harus terjadi seperti membayar cicilan rumah dan kendaraan, selain bersifat wajib juga bisa dikatakan sebagai pengeluaran produktif karena bersifat investasi jangka panjang dimana kita bisa memiliki aset berharga seperti rumah serta kendaraan yang sangat menunjang mobilitas kita sehari-hari. Sedangkan pengeluaran lainnya bersifat konsumtif, tetapi bagaimanapun pengeluaran tersebut tentu saja tidak bisa dihapuskan seluruhnya. Memang tidak bisa dihapuskan, tetapi kita masih bisa mengurangi kuantitasnya atau mungkin kualitasnya, ya tentu dengan solusi mengganti dengan barang subtitusi (barang sejenis yang manfaatnya sama tetapi berbeda kualitas, merek, dan harga). Sebagai contoh untuk pengurangan kuantitas seperti biaya jalan-jalan seminggu sekali, bisa dikurang menjadi sebulan sekali, pas pada saat kita keluar ke plaza atau swalayan untuk belanja bulanan. Tiga minggu lainnya kita bisa menikmati akhir pekan di rumah saja misalnya menemani anak menonton kartun kesukaannya, bermain sepeda bersama atau melakukan hal-hal menyenangkan lainnya di rumah. Contoh lain adalah penggunaan kendaraan, bila biasa saat ke kantor menggunakan mobil, yang menghabiskan lebih banyak bbm, maka lebih baik kita menggunakan motor saja, panas-panasan sedikit tak apa-apalah :). Mobil bisa digunakan saat-saat tertentu saja, mungkin saat jalan-jalan bersama keluarga. Sedangkan contoh untuk menggunakan barang substitusi misalnya untuk keperluan rumah tangga, seperti mengganti sabun mandi cair yang harganya lebih mahal dengan sabun mandi batangan yang harganya lebih murah, selain itu masih banyak lagi barang-barang keperluan rumah tangga yang bisa disubstitusi. Lalu pertanyaannya sampai kapan??? Tentu saja kita harus bersabar sampai neraca keuangan kita stabil. Seiring waktu biasanya jumlah pendapatan kita akan bertambah, dan jumlah cicilan akan berkurang (lunas).
Berbicara tentang barang konsumtif dan produktif, tentu terkait dengan pola hidup masyarakat Indonesia pada umumnya, ya..bisa dibilang pola hidup kita adalah konsumtif, sangat senang dan bangga berbelanja barang-barang mewah dan impor, padahal yang terpenting dan terbaik adalah kita memakai apa yang kita rasa nyaman walaupun harganya murah. Tapi yang repot ya kalau memang nyamannya kalo pakai yang maha sih, hehehe....
Ya....pada akhirnya kembali ke diri kita masing-masing guys .....
Semoga artikel ini bermanfaat..... See u later....
Rabu, 30 Januari 2013
Tentang Putera Pertamaku
Kami kemudian memanggilnya Darrell, tapi sejak dalam kandungan kami sering memanggilnya Tole, dan nama itu menjadi populer hingga ia lahir, hehehe. Puteraku kini berusia 7 bulan, ia tumbuh menjadi bayi laki-laki yang tampan, lincah, dan cerdas. Tingkat penangkapannya akan sesuatu cukup cepat, walaupun terkadang hyperactive-nya membuat kami kewalahan. Tapi Darrell sebenarnya adalah anak yang sabar, karena saat dia sedang kurang sehat seperti badannya panas, Darrell sangat jarang menangis. Mungkin saja itu salah satu sifat turunan dari Mommy-nya, hehehe.
Puteraku Darrell, tumbuhlah menjadi anak yang baik Nak. Berprestasilah kelak agar kami semakin bangga padamu. Jadilah anak yang santun bertutur kata, berbudi pekerti luhur, pekerja keras, pantang menyerah, cerdas dan mandiri. Doa kami akan selalu menyertaimu.
Senin, 19 November 2012
Sengsaraku
Dengan beban berat di pundakku
Begitu beratnya hingga kepalaku tak mampu tengadah
Aku berjalan lelah lunglai
Dengan kepala dan seluruh tubuhku berpeluh
Aku tertunduk malu
Di sepanjang jalan itu
Berpasang-pasang mata memandangku
Dengan tatapan sinis
Dengan celetuk hinaan dan cemooh
Dan aku tetap berjalan
Batinku merintih...
Perihnya luka di tubuhku tak seperih luka di hatiku
Menangispun aku tak sanggup
Berkeluh kesah tiada guna
Wahai Engkau Sang Pencipta
Wahai Engkau Sang Kuasa
Wahai Engkau Yang ku Cinta, ku agungkan, ku puja
Ampunkanlah mereka yang mencelaku
Ampunkanlah mereka yang menghinaku
Ampunkanlah mereka yang memandangku begitu rendahnya
Karena sesungguhnya mereka tak tahu
Apa yang sedang mereka perbuat
Rabu, 14 Maret 2012
Drama Pengadilan "Nenek Mencuri Singkong"

Di ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dg alasan agar menjadi cnth bagi warga lainnya.
NENEK SINGKONG
Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.
”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”.
Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.
‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.
“Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”
sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan ke panitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagian dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.
Semoga di indonesia banyak hakim-hakim yang berhati mulia sepertii ini.
Kamis, 11 Agustus 2011
Hanya Debulah Aku
Membuatku tersungkur, buruk
Teronggok tak terperhatikan
Terburai seperti kotoran
Hanya debulah aku
Karena laku-ku yang kotor
Karena fikir-ku yang picik
Karena aku tiada berguna
Aku hanya membuat perih
Hingga air mata keluar karena aku
Perbuatanku menyisakan kecewa
Hingga semua tak berarti
Hanya debulah aku
Karena jiwaku sudah mati
Ragaku pun menjadi abu
Tertiup angin menjadi debu jalanan
Kamis, 04 Agustus 2011
Belahan Jiwa yang Ku Cari
Jika kamu bertanya padaku
Seperti apakah belahan jiwa yang ku cari
Pendamping hidup yang ku inginkan
Sesempurna apakah dirinya
Aku takkan memilih pria yang tampan
Karena pria yang tampan selalu mencari
Wanita tercantik untuknya
Dan aku tak cukup cantik
Aku takkan memilih pria kaya raya
Karena pria yang berharta akan menegakkan kepalanya
Bersikap angkuh karena dapat membeli cinta
Dan cintaku tak untuk dijual
Aku mencari seseorang
Yang memayungi kepalaku saat hujan dan panas
Yang meyelimuti tubuhku saat kedinginan
Yang memberiku makan dan minum saat lapar dan haus
Yang memberiku obat saat sakit
Yang memberiku penghiburan saat bersedih
Yang turut menangis bersamaku saat berduka
Yang takkan pernah meninggalkanku
Hanya karena suatu kekurangan
Dan yang akan tinggal bersamaku
Sejak matahari terbit hingga terbenam
Selamanya…