Sabtu, 07 Desember 2019
Menolong Tanpa Batas? (Bagian 3)
“Bukalah pintunya Pi. Ayo kita keluar menemui kakek itu.”
“Kamu yakin Mi?”
Ku jawab pertanyaan suamiku hanya dengan anggukan.
Ceklek... Suamiku membuka pintu rumah kami, dan kami berjalan keluar menemui kakek itu.
“Waalaikumsalam.” Aku dan suamiku serempak menjawab salam kakek tadi.
“Ibu... Bapak... Maaf mngkin Saya mengganggu waktu istirahat ibu dan bapak.” Kakek itu memulai percakapannya.
“Wah rupanya kakek yang datang. Tidak apa-apa kok Kek... Ada apa ya Kek?”, jawabku.
“Begini Ibu, apakah sisa uang yang kemarin saya minta sudah ada? Kemarin Ibu hanya memberi saya seratus ribu karena kemarin penghujung bulan Ibu sudah tak ada uang. Saya masih perlu dua ratus ribu lagi.”
“Ohh... Iya, Kakek duduklah dulu, biar ku buatkan minuman. Kakek pasti lelah.”
Ku persilahkan kakek itu duduk di kursi teras kami, suamiku pun turut duduk menemaninya. Ku serahkan puteriku pada suamiku lalu ku masuk ke dalam rumah membuat segelas teh hangat.
“Kakek minumlah dulu teh hangat ini, dan tunggulah sebentar. Kami mau keluar dulu, tak akan lama.” Kataku sambil meletakkan segelas teh hangat di atas meja.
“Iya Bu, terima kasih. Tapi benar Ibu tak akan lama kembali?”
“Iya Kek.”
Aku dan suamiku berlalu meninggalkan rumah kami dengan mobil kijang kapsul milik kantor suamiku yang dipinjamkan untuk kami pakai sehari-hari.
“Apakah kamu akan memberinya uang lagi Mi?” tanya suamiku dengan pandangan lurus ke depan sembari menggerak-gerakan setir di tangannya.
“Bukankah uang itu hanya titipan Allah Pi?”, jawabku datar.
“Tapi bulan ini uang kita tak berlebih.”, suamiku menimpali.
“Karena tak berlebih, uang yang kita miliki sekarang terasa sangat berharga. Bila kita berikan pada orang yang membutuhkan pertolongan bukankah nilai pahalanya lebih besar?”
“Lalu akan kau ambil dari pos belanja kita yang mana? Bukankah semua sudah pas?”
“Berdoalah agar kita sekeluarga selalu sehat Pi.”
---
“Kek, terimalah ini.” Kataku kepada kakek itu sembari menyerahkan dua lembar uang seratus ribu rupiah kepadanya.
“Alhamdulillah... Sekarang uang saya sudah genap. Terima kasih Ibu dan Bapak sudah menolong saya. Sekarang saya harus segera ke pelabuhan untuk mengirimkan uang ini untuk cucu saya yang kuliah di kota pulau sebelah. Saya pamit sekarang ya Bu, Pak.”
“Sama-sama Kek. Pertolongan ini sesungguhnya dari Allah, kami hanya perantara saja.”
“Alhamdulillah, semoga Bapak Ibu sekeluarga selalu diberikan kesehatan dan keselamatan oleh Allah SWT.”
“Aamiin ya Rabbal’alamin.” Aku dan suamiku serempak menjawab.
Aku dan suamiku saling menatap dan saling tersenyum mengiringi kepergian kakek itu yang telah membawa dana cadangan yang ku anggarkan sebagai biaya kesehatan kami.
---
“Mbak, ini gaji Mbak Sima bulan ini.” Kataku kepada Mbak Sima sambil menyerahkan sebuah amplop putih di ruang tamu Mbak Sima saat aku hendak menjemput puteriku sepulang kantor sore itu.
“Bu...mengapa Ibu memberikan gaji saya? Saudara saya belum mengembalikan hutangnya, Ibu simpanlah dulu gaji saya sebagai jaminannya.”
“Ambillah Mbak, nanti kalau saudara Mbak Sima mengembalikan baru ku terima.”
“Tapi Bu... Belum ada kepastian dari saudara saya kapan dia bisa mengembalikan. Uang yang didapatkan suaminya kemarin dari pekerjaan menukangnya sudah terpakai untuk membeli kebutuhan anak-anaknya. Saudara saya bilang bulan ini kemungkinan belum bisa membayar, bilapun bulan selanjutnya bisa, mungkin belum bisa membayar penuh. Bolehkah dia mencicilnya Bu?”
“Tentu saja boleh Mbak. Bilanglah padanya untuk mencicil semampunya. Dan gaji ini adalah hak Mbak Sima, ambillah!”
“Baiklah Bu, nanti hutang saudara saya akan dibayar lebih, hitung-hitung sebagai bunga pinjamannya Bu.”
“Apakah kau melihat wajahku ini seperti lintah darat Mbak?”
“Hehe.. Maaf Bu.”
“Tak perlulah memakai bunga, apalagi yang meminjam adalah keluarga.”
Ya, Mbak Sima dan keluarganya sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri, apalagi kami adalah perantau yang tak punya sanak saudara di kota ini.
---
Hari ini adalah hari Sabtu di minggu ketiga bulan Desember, si Kakak terima raport. Suamiku yang pergi menerimanya.
“Mi...Kakak dapat juara satu.” Sebuah pesan whatsapp masuk ke telepon genggamku.
Ini berarti prestasi kakak meningkat karena di kelas satu kakak berada di posisi kedua.
“Assalamualaikum... Mi...lihat ini. Aku juara satu. Ye..ye..ye..ye...” Kakak berlari menghampiriku sambil membawa buku raportnya.
“Coba Ami lihat. Wah...nilai-nilai kakak bagus sekali.” Ku raih buku itu dan ku lihat satu-per satu angka yang tertera di sana.
“Berarti sebentar kita liburan kan Mi? Kita jadi nginap ke hotel kan Mi?”Kakak bertanya sembari menatap nanar kedua mataku.
Mendapat tatapan seperti itu, jantungku seketika berdegup kencang. Jawaban apa yang akan ku berikan pada puteraku. Kami sudah menjanjikannya liburan akhir semester ini sejak beberapa bulan yang lalu. Tapi kini kami sama sekali tak punya dana untuk itu.
“Kak...bisakah Kakak bersabar dulu? Saat ini Ami dan Api belum bisa mengajak Kakak menginap ke hotel. Insya Allah bulan depan, walau sudah tak libur semester, kita bisa pergi di akhir pekan.” Ku pegang kedua bahunya, berusaha meyakinkannya untuk setuju dengan perkataanku.
“Tidak! Ami dan Api sudah janji. Janji itu harus ditepati, tak boleh dilanggar.”
“Ami dan Api takkan melanggar, hanya saja belum sekarang.”
“Tidak!!! Aku tak mau bicara lagi.”
Puteraku yang berumur tujuh tahun itu seketika berlari meninggalkanku. Dia masuk ke dalam kamar, menutup pintunya dengan keras.
“Ya...Allah, ampuni hamba yang telah menyakiti hati putera hamba.” Bisikku di dalam hati.
“Sabar Mi, sebentar lagi ngambeknya pasti berhenti.” Suamiku menghampiriku dan mengusap punggung tanganku.
Cling...cling... Telepon genggamku berbunyi pertanda ada pesan whatsapp yang masuk.
Ku raih gawai yang tergeletak di meja dekatku berdiri dan ku buka isi pesan itu.
“Hai...Mentari. Job buat kamu lagi nih.. Please....bantuin aku ya. Tahun lalu bukan kamu yang handle aku kurang puas nih. Pokoknya kamu harus mau, tidak pakai tidak. File-file utama sudah aku email ke emailmu. Kalau kamu butuh data tambahan hubungi Nia saja ya, sekalian sambil tunggu data transaksi bulan ini. Aku kasih data lebih awal karena aku mau ke luar negeri sama keluargaku, baliknya sampai pertengahan bulan depan. Oh iya, fee-mu aku naikin ya, sekarang jadi enam juta. Sudah ku transfer ke rekeningmu yang biasa dua juta untuk uang muka. Ini bukti transfernya.”
“Subhanallah... Alhamdulillah...” Seketika ku ucapkan dua kata itu hingga membuat suamiku terkaget.
“Kenapa Mi?”, tanya suamiku.
“Bacalah ini Pi.”
Dini teman semasa kuliahku yang mengirimkan pesan whatssapp itu. Dia memiliki sebuah usaha fotocopy, percetakan dan penjualan alat tulis. Sudah beberapa tahun dia meminta bantuanku untuk mengaudit laporan keuangan perusahaannya itu. Kegiatan usahanya memang masih dilakukan dengan sistem akuntansi sederhana, sehingga dia membutuhkan bantuan auditor untuk memeriksa dan mengoreksi pencatatan yang ada untuk memperbaiki kinerja pelaporan usahanya serta untuk kepentingan pembayaran pajaknya. Aku memang bukanlah seorang auditor, hanya saja kemampuan akuntansiku bisa dibilang baik. Tahun lalu aku tak bisa membantunya karena saat itu aku masih sangat sibuk mengurus puteriku yang masih sangat bayi. Dan hari ini Dini menghubungiku, sungguh di luar dugaanku karena biasanya bila akan meminta bantuanku, Dini menghubungiku di awal tahun setelah tutup buku.
“Allah selalu bersama kita Mi.” Suamiku berkata padaku setelah membaca isi pesan itu. Matanya nampak berkaca-kaca.
Ku anggukkan kepala dan ku hambur tubuhnya dengan pelukanku. Bagaimana kami tak bahagia dan bersyukur, kami kini punya uang. Bukan hanya cukup untuk membayar sewa hotel itu, kami bahkan sekarang punya dana cadangan yang jumlahnya lima kali dana cadangan yang ku anggarkan kemarin dan telah ku berikan pada kakek itu.
---
“Surprise... Ye... Kakak kena prank!!!” Aku dan suamiku berteriak setelah membuka pintu kamar sambil membawa sebuah koper kecil.
“Maksudnya?”, si Kakak nampak kebingungan.
“Tadi itu Ami dan Api nge-prank Kakak. Sebenarnya hari ini kita akan liburan ke hotel. Yeee....” Kataku dengan ekspresi menggodanya.
“Benarkah??? Yeeee......”
“Ayo cepat siapin barang-barang. Ayo kakak mau bawa baju yang mana untuk berenang?”
“Yang ini Mi.” Si Kakak berlari membuka pintu lemari memilih-milih pakaiannya.
---
Walau hanya menginap semalam di hotel berbintang itu, anak-anakku terlihat sangat bahagia. Sungguh tak ada kebahagiaan yang melebihi saat melihat anak-anakku bahagia. Minggu sore akhirnya kami sampai kembali ke rumah kami.
“Pak... Bu... Ini ada titipannya.” Pak Sudin tetangga kami tiba-tiba datang menghampiri kami yang hendak masuk ke dalam rumah. Pak Sudin nampak membawa sebuah kantong plastik berwarna hitam yang nampak berisi sesuatu.
“Titipan apa ya Pak?”, tanya suamiku.
“Tadi ada kakek-kakek mau ke rumah bapak, tapi saya katakan bapak dan ibu sedang keluar. Lalu kakek itu menitipkan ini untuk diserahkan ke bapak dan ibu. Oh iya kakek itu juga meminta kertas dan pena untuk menuliskan surat dan dititipkan juga untuk disampaikan ke bapak dan ibu.” Pak Sudin menerangkan sembari menyerahkan bungkusan plastik dan sepucuk surat.
“Oh..iya terima kasih ya Pak Sudin, maaf sudah merepotkan Bapak.” Suamiku menerima bungkusan plastik dan surat itu.
“Sama-sama Pak, kalau begitu saya permisi dulu ya.”
Setelah Pak Sudin pergi kami membuka surat itu terlebih dahulu.
Assalamualaikum
Untuk Bapak dan Ibu yang baik,
Maafkan saya tidak tahu nama bapak dan ibu. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan bapak dan ibu kepada saya. Cucu saya sudah diwisuda. Saya tidak mampu membalas kebaikan bapak dan ibu, tetapi saya selalu berdoa agar Allah senantiasa melimpahkan rahmatnya untuk bapak sekeluarga. Semoga selalu sehat dan diberikan rejeki yang berkah. Aamiin. Ini ada buah mangga yang saya petik dari pohon saya sendiri, hanya ini yang bisa saya berikan. Tolong diterima.
Sekali lagi terima kasih.
Wassalam...
Kakek Musa
Kami membuka bungkusan plastik itu, nampaklah sekantong buah mangga yang ranum. Buah mangga adalah buah kesukaan suami dan puteraku. Terima kasih Kakek.... Dan kini kami tahu namamu adalah Kakek Musa.
SEKIAN
Cerita ini 90% berdasarkan kisah nyata dan selebihnya improvisasi dari penulis.
Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.
Menolong Tanpa Batas? (Bagian 2)
Si kakak rupanya sudah siap untuk berangkat ke tempat les bahasa Inggrisnya. Suamiku pun sudah siap untuk mengantarkannya.
Setelah berpamitan padaku mereka pun pergi.
Ku lihat puteri kecilku masih terlelap dalam tidur sorenya. Ku raih telepon genggamku, rupanya ada pesan whatsapp yang masuk dari adik perempuanku.
"Kak, aku lagi mumet nih. Aku bingung harus bagaimana. Belakangan ini ku perhatikan nenek uring-uringan. Feelingku sih dia lagi tak punya uang. Kakak tau kan penghasilanku berapa, aku yang menanggung kebutuhan rumah, tak mungkin lagi ku tambahkan jatahnya." Begitulah bunyi pesan whatsapp-nya.
Adik perempuanku itu namanya Wulan. Seorang janda beranak dua. Suaminya meninggal setahun silam di usianya yang baru tiga puluh tahun karena sakit. Kedua anaknya lelaki, yang pertama berusia delapan tahun dan yang bungsu seusia puteri bungsuku. Selama ini mereka tinggal di rumah orang tua suaminya di kampung. Setelah suaminya meninggal, Wulan tetap tinggal di sana atas permintaan ayah mertuanya yang ingin tetap dekat dengan cucu-cucunya sebagai pengganti puteranya yang telah tiada. Sepeninggal suaminya, Wulan yang tadinya hanya menjadi ibu rumah tangga pun harus bekerja. Dengan bekal ijazah D-III keperawatannya Wulan diterima sebagai tenaga kontrak di RSUD dengan gaji enam ratus ribu rupiah per bulan.
Selain itu Wulan kadang mengobati orang-orang yang sakit di kampung itu dengan bayaran seadanya. Dari penghasilannya itu Wulan harus membiayai kebutuhan hidup dirinya, kedua anaknya, nenek kakek (mertuanya) dan seorang adik iparnya yang berusia sepuluh tahun. Wulan selalu bilang "asal sudah ada beras aku sudah tenang, sayur bisa petik di kebun kakek ala kadarnya, apapun yang bisa dipetik. Ikan disini tak begitu mahal, kadang kakekpun suka memancing ke laut."
Gaji Wulan memang hanya cukup untuk membeli beras dan beberapa kebutuhan lainnya. Seratus ribu rupiah menjadi jatah bulanan nenek (ibu mertuanya) untuk menjaga anak bungsu Wulan saat dia pergi bekerja.
"Tambahkanlah saja jatahnya, mungkin saja ada yang ingin dibelinya. Senangkanlah hati mertuamu supaya dia menjaga anakmu dengan baik. Besok kakak gajian, kakak transfer ke rekeningmu untuk tambahan uang jatah nenek, juga untuk uang jajan anak-anakmu." Ku balas chatting-nya.
---
Pukul 16.30 suamiku bergegas untuk menjemput si kakak dari les bahasa Inggrisnya. Waktu berlalu hingga pukul 17.30.
"Ahh...kenapa lama sekali mereka belum pulang", batinku.
Tak lama kemudian... ""Assalamualaikum..."
Si kakak datang sambil membawa kantong plastik berwarna hitam.
"Waalaikumsalam. Kok baru sampai rumah?"
"Tadi waktu jalan pulang, aku lewat jalan pinggir pantai, rupanya bertemu teman lalu diajak ngobrol dan ditawari minum. Tapi si kakak tak mau lama-lama, jadi kelapa mudanya dibawa pulang saja. Kelapanya dibayarin temanku itu" Suamiku menjawab pertanyaanku.
Kuraih kantong plastik yang dibawa kakak, dua buah kelapa hijau yang telah dikupas kulit luarnya.
"Pi..bukain dong kelapanya, aku mau minum airnya dulu, habis itu belahin ya aku mau makan kelapanya. Tidak usah pakai es dan sirup, aku mau makan begini saja." Si kakak nampak kegirangan sambil menggendong satu buah kelapa itu.
"Ya... Allah... Sungguh Engkaulah sebaik-baiknya penolong. Uang terakhirku yang hendak ku pakai membelikan kakak kelapa muda sudah kuberikan pada kakek itu. Tapi tak Kau biarkan puteraku bersedih. Dia tetap mendapatkan kelapa mudanya." Aku berkata di dalam hatiku sambil tersenyum menatap putera kesayanganku.
Seketika aku teringat perkataan seorang Ustadz yang senantiasa ku dengar tauziahnya di televisi setiap pagi sembari mondar mandir menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum berangkat ke kantor.
"Berilah pertolongan bila ada yang meminta bantuan tanpa harus berprasangka buruk kepadanya. Lakukan pertolonganmu hanya karena dan untuk Allah. Kendatipun orang yang meminta pertolongan mungkin hanya menipu, itu adalah urusan dia dengan Allah."
---
Hari ini tangal satu. Gaji kami sudah masuk ke rekening walaupun ini hari Minggu.
Aku mulai membuat daftar pengeluaranku bulan ini. Jumlah gajiku dan suamiku enam juta tujuh ratus ribu rupiah. Belanja bulanan termasuk susu anak-anak dua juta lima ratus ribu rupiah. Belanja bahan makanan sebulan satu juta rupiah. Bayar listrik dan air empat ratus lima puluh ribu rupiah. Uang saku kakak ke sekolah dua ratus lima puluh ribu rupiah sebulan. Uang jajan aku dan suamiku saat di kantor masing-masing lima ratus ribu rupiah. Kami perlu uang saku untuk membeli cemilan saat sedang bekerja di kantor. Gaji Mbak Sima satu juta rupiah. Ya..tetap ku anggarkan pembayaran gaji Mbak Sima walaupun dia bilang menggadaikan gajinya saat meminjam uang untuk saudaranya. Biarkanlah saat saudaranya itu membayar hutang kepada Mbak Sima baru ku terima. Kalau ku ambil dari gaji Mbak Sima, mau makan apa dia dan ibunya. Tiga ratus ribu rupiah akan ku kirimkan untuk adikku. Sisanya dua ratus ribu rupiah kujadikan dana cadangan bila sewaktu-waktu kami sakit, kami butuh dana untuk ke dokter. Apalagi saat ini musim panas, anak-anak rentan panas dan batuk.
Dering telepon genggam suamiku mengagetkanku di tengah keasikanku membuat catatan daftar pengeluaran.
"Halo... Gimana Ndra? Apa? Terus gimana? Iya bawa saja ke rumah sakit sekarang. Nanti mas kirim." Tut..tut..tut
"Siapa Pi?" Tanyaku penasaran.
"Indra Mi. Bapak mau dibawa ke rumah sakit, katanya muntah-muntah dan badannya sudah lemas. Tadi Indra telepon sambil nangis-nangis, terus teleponnya putus. Kayaknya dia buru-buru. Mi...kita kirim sejuta ya ke rekening Ibu buat biaya rumah sakit."
Rupanya Indra adik suamiku yang menelepon. "Ya...Allah semoga Bapak baik-baik saja. Iya Pi segera kirim uangnya."
Satu juta rupiah biarlah diambil dari jatah uang jajanku dan suamiku. Biarlah bulan ini kami menahan sedikit rasa ingin ngemil kami saat di kantor. Tak mengapa asal Bapak segera mendapat perawatan.
"Ayo Mi kita ke ATM sekarang, sekalian kita kirimkan uang Dik Wulan."
"Iya Pi." Ku ambil dompetku, lalu ku gendong puteri kecilku. Sesaat ketika kami akan membuka pintu rumah terdengar suara dari luar.
"Assalamualaikum.... Assalamualaikum."
"Mi....Kakek itu datang lagi!" Suamiku berkata datar namun dengan ekspresi wajahnya yang kaget usai mengintip dari celah jendela.
"Subhanallah..." Ku hanya dapat mengeluarkan kata itu lalu diam terpaku.
Ya...Allah... Apakah Engkau sedang menguji kami. Apakah kakek itu datang hendak menagih perkataanku kemarin? Apakah kakek itu tahu hari ini kami gajian? Kami sudah tak punya kelebihan uang untuk bulan ini. Tak mungkin ku kurangi dari belanja bulanan kami yang sudah kuhitung pas. Harga susu anak-anak tak bisa ditawar. Tak mungkin juga dari uang belanja bahan makanan kami. Anak-anakku masih dalam masa pertumbuhan, mereka butuh asupan gizi yang cukup. Apalagi uang yang akan ku kirim untuk adikku. Anak-anaknya yatim, mereka memerlukan bantuanku. Uang jajanku dan suamiku akan kukirimkan untuk mertuaku.
Ya... Allah... Apakah tak ada batas untuk menolong?
Bersambung
Menolong Tanpa Batas? (Bagian 1)
"Berapa biaya yang harus dibayar?" Tanyaku pelan.
"Tiga juta lima ratus. Tapi saya sudah punya dua juta sembilan ratus dari menjual ternak saya, kurang enam ratus ribu lagi. Kalau ibu bersedia memberi sisanya, saya akan sangat berterima kasih. Tapi kalau tidak, mungkin setengahnya." Jawabnya dengan mata berbinar.
"Astagfirullah..." Kataku seketika, membuatnya agak terkejut.
Ya, kakek itu hendak meminta, bukan meminjam. Ingatanku kembali ke kejadian empat bulan yang lalu, sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Kala itu aku, suamiku, dan kedua anakku baru pulang berbelanja untuk keperluan lebaran. Ketika hendak masuk rumah, seorang kakek tiba-tiba datang menghampiri kami. Entah dari mana datangnya, sehingga membuatku terkaget.
"Ibu... Tolonglah saya. Berikan saya uang untuk ongkos pulang ke kampung saya."
"Kakek duduklah dulu, tunggu sebentar." Kataku sambil mempersilahkannya duduk di kursi teras.
Ku bawa anak-anakku masuk ke rumah, sedangkan suamiku sempat berbicara sebentar dengan kakek itu.
"Kampung bapak dimana?" Tanya suamiku.
"Di pulau kecil seberang itu." Jawab si kakek.
"Ke pulau itu berapa biayanya? Tanya suamiku lagi.
"Menyeberang dengan perahu speed lima belas ribu. Saya sama sekali tidak punya uang. Tolonglah beri saya lima belas ribu untuk ongkos pulang." Jawab kakek itu lagi.
Suamiku masuk ke dalam rumah, dan berkata padaku, "Berikanlah dia uang, kasihan kakek itu."
Ku buka dompetku, ku hitung lembaran rupiah sisa belanja tadi. Tak mungkin kuberi dia pas lima belas ribu, apalagi besok lebaran. Biarlah ini menjadi hadiah lebaran untuknya, pikirku. Seratus ribu rupiah, aku masih punya sejumlah itu. Ku lipat uang itu sambil tersenyum. Ketika hendak melangkah keluar, ku teringat sesuatu. Ku langkahkan kakiku ke dapur, ku ambil dua botol sirup dan satu pak mie kering. Ku bungkus dengan kantong plastik, lalu berjalan keluar menemui kakek itu.
"Kek, ambillah ini." Kataku sambil menyerahkan uang dan bungkusan plastik itu.
Kakek itu membuka lipatan uang dan menghitungnya.
"Alhamdulillah." Kata kakek itu dengan mata berbinar seolah tak percaya dengan jumlah yang dihitungnya.
"Yang di plastik itu sirup dan mie kering, bisa dimasak jadi mie goreng untuk lebaran besok." Kataku sambil tersenyum.
"Terima kasih Bu. Saya permisi dulu, harus segera karena hari sudah hampir magrib, tak lama lagi waktunya berbuka."
Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum mengiringi langkahnya meninggalkan rumah kami.
---
"Assalamualaikum.... Assalamualaikum..." Terdengar suara lirih seorang pria di depan rumah kami.
Suamiku keluar dan menemui tamu tersebut.
"Waalaikumsalam.... Bapak mau bertemu dengan siapa ya?" Tanya suamiku pada pria baya yang berdiri di depannya.
"Saya mau ketemu ibu, pak. Saya mau minta bantuan lagi." Kata kakek itu.
"Maksud bapak, ibu siapa ya? Mau minta bantuan bagaimana ya?" Rupanya suamiku telah lupa pada sosok kakek yang pernah datang empat bulan silam itu.
"Istri bapak pernah memberi saya uang dan makanan. Sekarang saya butuh bantuan lagi, cucu saya mau wisuda dan harus membayar dulu."
Suami saya nampak kebingungan lalu menyuruh kakek itu menunggu dan dia pun masuk ke dalam rumah.
Di dalam kamar dia menceritakan kedatangan kakek itu padaku.
"Apa kita masih punya uang?" Tanya suamiku.
"Seratus ribu." Jawabku.
"Berikanlah saja uang itu, besok kan kita gajian." Kata suamiku, sambil menunjuk kalender yang memperlihatkan hari ini tanggal tiga puluh, dan besok tanggal satu.
Aku mengangguk, ku ambil uang seratus ribu rupiah itu dari dompetku. Ku tatap sesaat, lalu ku masukkan dalam saku celana panjangku. Aku berjalan keluar rumah, sambil membayangkan puteraku si kakak yang ku janjikan minum es kelapa muda di tepi pantai sore nanti sepulang les bahasa inggrisnya. Ahh...semoga saja Miss Tina mengakhiri les lebih sore hari ini supaya aku punya alasan pada si kakak bila hari terlalu sore untuk minum es kelapa.
Teringat si kakak, akupun teringat kejadian hari kemarin. Uang yang ku tabung untuk memenuhi janjiku pada puteraku, liburan ke hotel berbintang yang ada kolam renangnya saat libur semester bulan depan, telah kupinjamkan pada Mbak Sima. Bagaimana mungkin aku tak membantu Mbak Sima, dia menjaga puteriku yang belum genap dua tahun usianya itu dengan baik saat aku kerja.
"Bu...maaf, bisakah ibu membantu saya?"
"Bantu apa mbak, katakanlah?"
"Saudara saya mau meminjam uang pada saya untuk membayar cicilan motornya. Tapi saya tidak punya uang. Dia perlu satu juta, apakah ibu bisa membantu meminjamkannya? Gaji saya bulan depan jadi jaminannya bu."
"Mbak Sima tidak perlu menggadaikan gaji, sebentar ya mbak."
Ku masuk ke dalam kamar, mengambil amplop yang ada di dalam tasku. Ku hitung jumlahnya, genap satu juta rupiah.
---
"Kek, saya hanya bisa memberi kakek segini." Kataku sambil mengambil uang seratus ribu rupiah dari saku celanaku.
"Bu...tambahkanlah lagi. Bila cuma segitu saya harus mencari kurangnya masih banyak lagi."
"Kek, uang yang saya punya sisa ini. Kakek datang di penghujung bulan."
"Baiklah bu, saya terima uangnya. Tapi apa nanti saya boleh datang lagi?"
Ku tarik nafasku, kupahami maksud perkataannya lalu berkata "Tentu boleh, bila ada rejeki lagi tentu kami akan berbagi."
Kakek itu lalu pamit dan berjalan pergi meninggalkan rumah kami. Ku pandangi langkahnya hingga tak nampak lagi dari penglihatanku.
Bersambung
Senin, 19 November 2012
Sengsaraku
Dengan beban berat di pundakku
Begitu beratnya hingga kepalaku tak mampu tengadah
Aku berjalan lelah lunglai
Dengan kepala dan seluruh tubuhku berpeluh
Aku tertunduk malu
Di sepanjang jalan itu
Berpasang-pasang mata memandangku
Dengan tatapan sinis
Dengan celetuk hinaan dan cemooh
Dan aku tetap berjalan
Batinku merintih...
Perihnya luka di tubuhku tak seperih luka di hatiku
Menangispun aku tak sanggup
Berkeluh kesah tiada guna
Wahai Engkau Sang Pencipta
Wahai Engkau Sang Kuasa
Wahai Engkau Yang ku Cinta, ku agungkan, ku puja
Ampunkanlah mereka yang mencelaku
Ampunkanlah mereka yang menghinaku
Ampunkanlah mereka yang memandangku begitu rendahnya
Karena sesungguhnya mereka tak tahu
Apa yang sedang mereka perbuat
Kamis, 11 Agustus 2011
Hanya Debulah Aku
Membuatku tersungkur, buruk
Teronggok tak terperhatikan
Terburai seperti kotoran
Hanya debulah aku
Karena laku-ku yang kotor
Karena fikir-ku yang picik
Karena aku tiada berguna
Aku hanya membuat perih
Hingga air mata keluar karena aku
Perbuatanku menyisakan kecewa
Hingga semua tak berarti
Hanya debulah aku
Karena jiwaku sudah mati
Ragaku pun menjadi abu
Tertiup angin menjadi debu jalanan
Kamis, 04 Agustus 2011
Belahan Jiwa yang Ku Cari
Jika kamu bertanya padaku
Seperti apakah belahan jiwa yang ku cari
Pendamping hidup yang ku inginkan
Sesempurna apakah dirinya
Aku takkan memilih pria yang tampan
Karena pria yang tampan selalu mencari
Wanita tercantik untuknya
Dan aku tak cukup cantik
Aku takkan memilih pria kaya raya
Karena pria yang berharta akan menegakkan kepalanya
Bersikap angkuh karena dapat membeli cinta
Dan cintaku tak untuk dijual
Aku mencari seseorang
Yang memayungi kepalaku saat hujan dan panas
Yang meyelimuti tubuhku saat kedinginan
Yang memberiku makan dan minum saat lapar dan haus
Yang memberiku obat saat sakit
Yang memberiku penghiburan saat bersedih
Yang turut menangis bersamaku saat berduka
Yang takkan pernah meninggalkanku
Hanya karena suatu kekurangan
Dan yang akan tinggal bersamaku
Sejak matahari terbit hingga terbenam
Selamanya…
Rabu, 16 Maret 2011
Aku dan Inginku Akan Mu
Adalah bukan aku
Aku yang selalu marah
Sesungguhnya karena ku butuh perhatianmu
Bila ku berkata salah... Itu berarti benar
Bila ku bilang tidak... Itu adalah iya
Bila ku berlari ke jalanan, ku ingin kau mengejarku...
Bila ku menyuruhmu pergi, ku mau kau terus mencariku...
Ku tak ingin hanya menatapmu dari pantulan cermin atau gelas
Ku tak ingin hanya melihatmu melalui bayangan air di tepi danau
Ku ingin kau seperti kaca pelita yang selalu berada di sekitarku
Menjagaku dari hembusan angin yang akan memadamkan cahaya lilinku
Aku begitu... karena ku terlalu mencintaimu
Jangan pernah tinggalkan aku lagi...
Jumat, 11 Maret 2011
Menangis dalam Kejauhan
Nafasku tersengal
Begitu sedihnya
Begitu mengiba
Ku menangis dalam kejauhan
Begitu jauh karena tak seorangpun melihat
Tak ada satu pun yang tahu
Bahwa aku sedang menangis
Isakku semakin menjadi
Semakin keras dan teriak
Tapi ku begitu jauh
Sendiri... sepi... tak tergapai...
Minggu, 24 Oktober 2010
Satu Hati untuk Satu Cinta
Ku beri...
Hanya untuk yang terpilih...
Satu cintaku...
Ku serahkan...
Hanya untuk yang terbaik...
Kamu... kamu... kamu... dan kamu-kamu yang lain...
Semua sudah berlalu...
Tak ada yang terpilih...
Dia... dia... dia... dan dia-dia yang lain...
Hanya bagian dari masa lalu...
Bukan menjadi yang terbaik...
Karena yang terpilih hanya satu...
Karena yang terbaik tetap hanya satu...
Karena satu hati selalu untuk satu cinta...
Senin, 06 September 2010
Kepergianku
Telah begitu banyak kejadian
Ada suka, ada duka
Ada kebahagiaan, ada nestapa
Aku adalah seorang pemimpi
Yang ku inginkan hanya bahagia
Bahagia di antara orang yang bahagia
Bahagia di dalam tawa orang yang takkan menangis
Aku punya banyak mimpi
Mimpi yang indah untukku dan mereka yang ku kasihi
Mimpi yang tak terlalu mudah untuk ku capai
Mimpi yang membuatku harus berkorban
Dan kini...
Aku akan lari sedapat mungkin aku berlari
Aku akan menghilang sedapat mungkin aku menghilang
Untuk mengejar mimpi-mimpiku
Aku lari dari masa lalu
Aku menghilang dari yang pernah ada padaku
Dan mereka takkan melihatku lagi
Hingga ku kembali
Bersama mimpiku yang telah menyata
Dalam kepergianku...
Udara
Aku bertahan karena kau ada
Aku bermimpi dan berharap
Karena kamu...
Setiap fikirku ada kamu
Setiap hayalku kamu hadir
Setiap inginku bersamamu
Untuk kamu...
Kau udara
Mengisi hidupku
Kau cahaya
Penerang jiwaku
Jangan pernah tinggalkan aku
Walau hanya sesaat saja
karena kau... Udaraku...
Sabtu, 14 Agustus 2010
Bayangan dalam Air Hujan
Masih terasa tubuh ini basah
Jika terus tak berlindung
Tapi suara hati memang masih mengenang
Saat ketika langit masih cerah
Hingga akhirnya hujan deraspun turun
Hujan memang kini tak deras lagi
Namun serpihan air kesedihan masih terasa
Karena rasa kehilangan
Dia yang telah hadir sebagai pengobat hati
Yang pernah terluka parah
Karena ketidakjujuran
Dia yang menyisakan sesak di pernapasanku
Karena sesungguhnya hati masih merindu
Namun dia telah mengabaikanku
Membiarkanku berdiri di dalam rintik hujan ini
Terpuruk dalam kesetiaan hati
Serta pengorbanan untuk menunggu
Dan suatu ketika...
Ketika tubuhku mulai lunglai
Basah kuyup dalam penantian
Aku melihat sesuatu yang muncul
Ada bayangan dalam air hujan
Bayangan yang hanya terlihat samar
Menyatakan bahwa ia tak berada dekat denganku
Ia sangat jauh, dan aku tak dapat menyentuhnya
Dengan tanganku.... Dengan ragaku....
Namun....
Bayangan itu terasa dekat dengan hatiku
Sangat dekat....
Karena aku merasakan
Ia memayungiku dari rintik hujan
Ia menyelimuti hatiku yang beku
Hingga ku merasa hangat
Dan aku melihat goresan pena di langit
Warna-warni pelangi...
Ia hadir bagai sepercik cahaya kilat
Seketika membuatku tersadar
Bahwa aku masih punya hati
Untuk merasakan hangatnya udara
Tak terus berdiam diri, terpaku pasrah
Dalam derai hujan kesedihan
Ia memang hanya sebuah bayangan dalam air
Tapi suatu hari nanti...
Aku pasti dapat menyentuhnya dengan tanganku
Memeluk dan merengkuhnya dalam tubuhku
Dan takkan pernah melepaskannya
Agar hujan tak turun lagi
Dan pelangi terus mewarnai hatiku...
Senin, 31 Mei 2010
Sinopsis Novel "Udara"
Selain kuliah Udara pun bekerja pada sebuah toko bunga, hal itu dilakukannya agar dapat belajar lebih mandiri. Pada suatu ketika ia bertemu dengan ayahnya setelah sekian lama tak berjumpa. Ayahnya ternyata mengidap penyakit parah dan divonis tak berumur panjang lagi. Dalam sisa hidupnya, ia mencari Udara dan memintanya untuk melanjutkan karya seninya, sebab ia yakin putrinya memiliki darah senimannya. Sepeninggal ayahnya, Udara pun menjalankan amanah ayahnya itu. Ia mengikuti sebuah les musik, tetapi tanpa sepengetahuan ibunya.
Dalam perjalanan Udara untuk menyelesaikan pendidikannya sesuai keinginan ibunya serta menjalankan amanah ayahnya, ia senantiasa ditemani oleh sahabatnya sejak SMP bernama Lona. Hingga akhirnya konflik percintaan mulai terjadi setelah kemunculan Rain dan Afdyan.
Rain adalah putra dari pimpinan Ibu Laras (ibu Udara) di tempatnya bekerja. Pertemuan Rain dan Udara di toko bunga diawali dengan pertengkaran. Pertemuan selanjutnya terjadi di tempat les musik, dimana adik Rain (Destin) juga mengikuti les musik itu. Benih-benih cinta pun mulai tumbuh antara Udara dan Rain, dan Rain pun menyatakan cintanya pada Udara setelah acara pagelaran musik yang diadakan sanggar musik mereka.
Afdyan adalah teman SMP Udara dan Lona, selain itu Afdyan adalah pacar Lona kala SMP. Akan tetapi ternyata kala itu Afdyan menyukai Udara, tetapi karena sebuah keegoisan ia justru memacari Lona. Penyesalan pun disimpan dalam hatinya dan ia berniat untuk menemukan Udara setelah perpisahan yang sangat lama.
Rain dan Afdyan ternyata adalah sahabat dekat. Konflikpun terjadi karena adanya perjodohan antara orang tua Rain dan Lona atas mereka. Pada awalnya Lona berusaha menolak perjodohan karena ia tahu hubungan Udara dan Rain dan bahwa Rain mencintai Udara. Selain itu Lona pun masih mencintai Afdyan, apalagi sejak bertemu kembali dengan Afdyan, ia berharap kisah cinta yang dulu ada dapat terulang kembali.
Usaha Lona dan Rain untuk meyakinkan kedua orang tuanya bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan ternyata sia-sia setelah ayah Rain mengancam akan memecat ibu Udara jika ia masih saja berhubungan dengannya. Ayah Lona pun mengancam tak akan mengakuinya sebagai anak jika ia menolak menikah dengan Rain.
Dalam situasi itu, Afdyan menemui Udara dan mengatakan bahwa sesungguhnya dulu yang ia cintai adalah dirinya. Berpacaran dengan Lona dikatakannya adalah sebuah kesalahan dan ia menyesal karena itu. Tanpa disangka Lona tiba-tiba datang dan mendengar pernyataan itu. Ia sangat marah dan merasa Udara telah menghianatinya. Ia pun memutuskan untuk menerima perjodohannya dengan Rain.
Udara tak dapat berbuat banyak, di tengah-tengah kekalutan hatinya ia mendapat tawaran untuk melanjutkan pendidikan musiknya di akademi musik di Amerika. Ia pun menerimanya setelah meminta ijin dari ibunya. Hari keberangkatan Udara ke Amerika bertepatan dengan hari pernikahan Rain dan Lona. Hingga menjelang saat pernikahannya, Rain masih belum dapat menerima pernikahan yang tak diinginkannya ini. Afdyan pun berusaha membantu Rain, ia sadar bahwa cinta tak semestinya dipaksakan, dan ia pun mendukung Rain memperjuangkan cintanya pada Udara. Afdyan pergi ke rumah Udara tetapi kemudian diketahuinya bahwa Udara akan berangkat ke Amerika dan saat itu sedang dalam perjalanan ke bandara.
Afdyan menghubungi Rain, dan Rain berusaha berbicara pada Lona untuk membatalkan pernikahan itu, tetapi Lona tetap menolak. Ketika menunggu pesawatnya di bandara, Udara terus berpikir tentang hatinya, tentang cintanya. haruskah ia meninggalkan cintanya? Bukankah cinta harus diperjuangkan? Apakah yang akan dilakukan Udara? Apakah kisah cinta Udara dan Rain benar-benar akan berakhir? Apakah Rain akan tetap pasrah dengan kepergian Udara?
Tunggu saja novelnya!!!!
Sabtu, 22 Mei 2010
Takkan ada lagi...
Tapi kau mengacuhkanku
Dengan alasanmu
Kau hendak menjauh dariku
Aku terima walau perih
Sakit yang ku rasa
Biar waktu yang mengobatinya
Satu hal yang perlu kamu tau
Dan ku yakinkan padamu
Dari yang pernah ada
Dan yang akan ada
Untuk mencintaimu
Takkan pernah ada
Yang mencintaimu sebesar cintaku
Yang kesetiaannya sebesar setiaku
Sebab semuanya mencintaimu
Dari kelebihanmu
Dan aku mencintaimu
Dari kekuranganmu
Ini adalah pilihanmu
Kau membuatku harus berlalu darimu
Dan cintaku sudah tak ada
Takkan ada lagi untukmu
Jumat, 02 April 2010
Kekasihku…Matahariku…
Terasa kering, tak ada semangat lagi untuk tumbuh,
Seperti serpihan pasir di pantai,
Benar-benar kering…
Namun ketika itu, tanpa pernah tersadari,
Bahwa matahari masih ada,
Bahwa langit tak selamanya gelap,
Ada unsur hara yang menumbuhkan kembali
Semangat hidup dalam cinta dan kasih…
Cinta dan kasih….
Dari tatap mata penuh arti,
Dari harapan indahnya impian,
Dari kesetiaan dan kejujuran,
Seorang kekasih….
Kekasihku… Pujaan hatiku..
Tetaplah di sampingku
Agar bunga cinta ini terus berkembang
Memberikan warna indah dunia kita
Menebarkan aroma kebahagiaan
Dan takkan pernah terpisahkan
Engkau datang seperti matahari,
Memberi cahaya dan kehangatan,
Jangan pernah berhenti menyinari,
Hati yang tercipta untukmu,
Dan senantiasa berkata,
Aku mencintaimu……