Suamiku menatapku seolah bertanya “apa yang harus kita lakukan?”. Ku balas tatapannya seraya mengganggukkan kepalaku.
“Bukalah pintunya Pi. Ayo kita keluar menemui kakek itu.”
“Kamu yakin Mi?”
Ku jawab pertanyaan suamiku hanya dengan anggukan.
Ceklek... Suamiku membuka pintu rumah kami, dan kami berjalan keluar menemui kakek itu.
“Waalaikumsalam.” Aku dan suamiku serempak menjawab salam kakek tadi.
“Ibu... Bapak... Maaf mngkin Saya mengganggu waktu istirahat ibu dan bapak.” Kakek itu memulai percakapannya.
“Wah rupanya kakek yang datang. Tidak apa-apa kok Kek... Ada apa ya Kek?”, jawabku.
“Begini Ibu, apakah sisa uang yang kemarin saya minta sudah ada? Kemarin Ibu hanya memberi saya seratus ribu karena kemarin penghujung bulan Ibu sudah tak ada uang. Saya masih perlu dua ratus ribu lagi.”
“Ohh... Iya, Kakek duduklah dulu, biar ku buatkan minuman. Kakek pasti lelah.”
Ku persilahkan kakek itu duduk di kursi teras kami, suamiku pun turut duduk menemaninya. Ku serahkan puteriku pada suamiku lalu ku masuk ke dalam rumah membuat segelas teh hangat.
“Kakek minumlah dulu teh hangat ini, dan tunggulah sebentar. Kami mau keluar dulu, tak akan lama.” Kataku sambil meletakkan segelas teh hangat di atas meja.
“Iya Bu, terima kasih. Tapi benar Ibu tak akan lama kembali?”
“Iya Kek.”
Aku dan suamiku berlalu meninggalkan rumah kami dengan mobil kijang kapsul milik kantor suamiku yang dipinjamkan untuk kami pakai sehari-hari.
“Apakah kamu akan memberinya uang lagi Mi?” tanya suamiku dengan pandangan lurus ke depan sembari menggerak-gerakan setir di tangannya.
“Bukankah uang itu hanya titipan Allah Pi?”, jawabku datar.
“Tapi bulan ini uang kita tak berlebih.”, suamiku menimpali.
“Karena tak berlebih, uang yang kita miliki sekarang terasa sangat berharga. Bila kita berikan pada orang yang membutuhkan pertolongan bukankah nilai pahalanya lebih besar?”
“Lalu akan kau ambil dari pos belanja kita yang mana? Bukankah semua sudah pas?”
“Berdoalah agar kita sekeluarga selalu sehat Pi.”
---
“Kek, terimalah ini.” Kataku kepada kakek itu sembari menyerahkan dua lembar uang seratus ribu rupiah kepadanya.
“Alhamdulillah... Sekarang uang saya sudah genap. Terima kasih Ibu dan Bapak sudah menolong saya. Sekarang saya harus segera ke pelabuhan untuk mengirimkan uang ini untuk cucu saya yang kuliah di kota pulau sebelah. Saya pamit sekarang ya Bu, Pak.”
“Sama-sama Kek. Pertolongan ini sesungguhnya dari Allah, kami hanya perantara saja.”
“Alhamdulillah, semoga Bapak Ibu sekeluarga selalu diberikan kesehatan dan keselamatan oleh Allah SWT.”
“Aamiin ya Rabbal’alamin.” Aku dan suamiku serempak menjawab.
Aku dan suamiku saling menatap dan saling tersenyum mengiringi kepergian kakek itu yang telah membawa dana cadangan yang ku anggarkan sebagai biaya kesehatan kami.
---
“Mbak, ini gaji Mbak Sima bulan ini.” Kataku kepada Mbak Sima sambil menyerahkan sebuah amplop putih di ruang tamu Mbak Sima saat aku hendak menjemput puteriku sepulang kantor sore itu.
“Bu...mengapa Ibu memberikan gaji saya? Saudara saya belum mengembalikan hutangnya, Ibu simpanlah dulu gaji saya sebagai jaminannya.”
“Ambillah Mbak, nanti kalau saudara Mbak Sima mengembalikan baru ku terima.”
“Tapi Bu... Belum ada kepastian dari saudara saya kapan dia bisa mengembalikan. Uang yang didapatkan suaminya kemarin dari pekerjaan menukangnya sudah terpakai untuk membeli kebutuhan anak-anaknya. Saudara saya bilang bulan ini kemungkinan belum bisa membayar, bilapun bulan selanjutnya bisa, mungkin belum bisa membayar penuh. Bolehkah dia mencicilnya Bu?”
“Tentu saja boleh Mbak. Bilanglah padanya untuk mencicil semampunya. Dan gaji ini adalah hak Mbak Sima, ambillah!”
“Baiklah Bu, nanti hutang saudara saya akan dibayar lebih, hitung-hitung sebagai bunga pinjamannya Bu.”
“Apakah kau melihat wajahku ini seperti lintah darat Mbak?”
“Hehe.. Maaf Bu.”
“Tak perlulah memakai bunga, apalagi yang meminjam adalah keluarga.”
Ya, Mbak Sima dan keluarganya sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri, apalagi kami adalah perantau yang tak punya sanak saudara di kota ini.
---
Hari ini adalah hari Sabtu di minggu ketiga bulan Desember, si Kakak terima raport. Suamiku yang pergi menerimanya.
“Mi...Kakak dapat juara satu.” Sebuah pesan whatsapp masuk ke telepon genggamku.
Ini berarti prestasi kakak meningkat karena di kelas satu kakak berada di posisi kedua.
“Assalamualaikum... Mi...lihat ini. Aku juara satu. Ye..ye..ye..ye...” Kakak berlari menghampiriku sambil membawa buku raportnya.
“Coba Ami lihat. Wah...nilai-nilai kakak bagus sekali.” Ku raih buku itu dan ku lihat satu-per satu angka yang tertera di sana.
“Berarti sebentar kita liburan kan Mi? Kita jadi nginap ke hotel kan Mi?”Kakak bertanya sembari menatap nanar kedua mataku.
Mendapat tatapan seperti itu, jantungku seketika berdegup kencang. Jawaban apa yang akan ku berikan pada puteraku. Kami sudah menjanjikannya liburan akhir semester ini sejak beberapa bulan yang lalu. Tapi kini kami sama sekali tak punya dana untuk itu.
“Kak...bisakah Kakak bersabar dulu? Saat ini Ami dan Api belum bisa mengajak Kakak menginap ke hotel. Insya Allah bulan depan, walau sudah tak libur semester, kita bisa pergi di akhir pekan.” Ku pegang kedua bahunya, berusaha meyakinkannya untuk setuju dengan perkataanku.
“Tidak! Ami dan Api sudah janji. Janji itu harus ditepati, tak boleh dilanggar.”
“Ami dan Api takkan melanggar, hanya saja belum sekarang.”
“Tidak!!! Aku tak mau bicara lagi.”
Puteraku yang berumur tujuh tahun itu seketika berlari meninggalkanku. Dia masuk ke dalam kamar, menutup pintunya dengan keras.
“Ya...Allah, ampuni hamba yang telah menyakiti hati putera hamba.” Bisikku di dalam hati.
“Sabar Mi, sebentar lagi ngambeknya pasti berhenti.” Suamiku menghampiriku dan mengusap punggung tanganku.
Cling...cling... Telepon genggamku berbunyi pertanda ada pesan whatsapp yang masuk.
Ku raih gawai yang tergeletak di meja dekatku berdiri dan ku buka isi pesan itu.
“Hai...Mentari. Job buat kamu lagi nih.. Please....bantuin aku ya. Tahun lalu bukan kamu yang handle aku kurang puas nih. Pokoknya kamu harus mau, tidak pakai tidak. File-file utama sudah aku email ke emailmu. Kalau kamu butuh data tambahan hubungi Nia saja ya, sekalian sambil tunggu data transaksi bulan ini. Aku kasih data lebih awal karena aku mau ke luar negeri sama keluargaku, baliknya sampai pertengahan bulan depan. Oh iya, fee-mu aku naikin ya, sekarang jadi enam juta. Sudah ku transfer ke rekeningmu yang biasa dua juta untuk uang muka. Ini bukti transfernya.”
“Subhanallah... Alhamdulillah...” Seketika ku ucapkan dua kata itu hingga membuat suamiku terkaget.
“Kenapa Mi?”, tanya suamiku.
“Bacalah ini Pi.”
Dini teman semasa kuliahku yang mengirimkan pesan whatssapp itu. Dia memiliki sebuah usaha fotocopy, percetakan dan penjualan alat tulis. Sudah beberapa tahun dia meminta bantuanku untuk mengaudit laporan keuangan perusahaannya itu. Kegiatan usahanya memang masih dilakukan dengan sistem akuntansi sederhana, sehingga dia membutuhkan bantuan auditor untuk memeriksa dan mengoreksi pencatatan yang ada untuk memperbaiki kinerja pelaporan usahanya serta untuk kepentingan pembayaran pajaknya. Aku memang bukanlah seorang auditor, hanya saja kemampuan akuntansiku bisa dibilang baik. Tahun lalu aku tak bisa membantunya karena saat itu aku masih sangat sibuk mengurus puteriku yang masih sangat bayi. Dan hari ini Dini menghubungiku, sungguh di luar dugaanku karena biasanya bila akan meminta bantuanku, Dini menghubungiku di awal tahun setelah tutup buku.
“Allah selalu bersama kita Mi.” Suamiku berkata padaku setelah membaca isi pesan itu. Matanya nampak berkaca-kaca.
Ku anggukkan kepala dan ku hambur tubuhnya dengan pelukanku. Bagaimana kami tak bahagia dan bersyukur, kami kini punya uang. Bukan hanya cukup untuk membayar sewa hotel itu, kami bahkan sekarang punya dana cadangan yang jumlahnya lima kali dana cadangan yang ku anggarkan kemarin dan telah ku berikan pada kakek itu.
---
“Surprise... Ye... Kakak kena prank!!!” Aku dan suamiku berteriak setelah membuka pintu kamar sambil membawa sebuah koper kecil.
“Maksudnya?”, si Kakak nampak kebingungan.
“Tadi itu Ami dan Api nge-prank Kakak. Sebenarnya hari ini kita akan liburan ke hotel. Yeee....” Kataku dengan ekspresi menggodanya.
“Benarkah??? Yeeee......”
“Ayo cepat siapin barang-barang. Ayo kakak mau bawa baju yang mana untuk berenang?”
“Yang ini Mi.” Si Kakak berlari membuka pintu lemari memilih-milih pakaiannya.
---
Walau hanya menginap semalam di hotel berbintang itu, anak-anakku terlihat sangat bahagia. Sungguh tak ada kebahagiaan yang melebihi saat melihat anak-anakku bahagia. Minggu sore akhirnya kami sampai kembali ke rumah kami.
“Pak... Bu... Ini ada titipannya.” Pak Sudin tetangga kami tiba-tiba datang menghampiri kami yang hendak masuk ke dalam rumah. Pak Sudin nampak membawa sebuah kantong plastik berwarna hitam yang nampak berisi sesuatu.
“Titipan apa ya Pak?”, tanya suamiku.
“Tadi ada kakek-kakek mau ke rumah bapak, tapi saya katakan bapak dan ibu sedang keluar. Lalu kakek itu menitipkan ini untuk diserahkan ke bapak dan ibu. Oh iya kakek itu juga meminta kertas dan pena untuk menuliskan surat dan dititipkan juga untuk disampaikan ke bapak dan ibu.” Pak Sudin menerangkan sembari menyerahkan bungkusan plastik dan sepucuk surat.
“Oh..iya terima kasih ya Pak Sudin, maaf sudah merepotkan Bapak.” Suamiku menerima bungkusan plastik dan surat itu.
“Sama-sama Pak, kalau begitu saya permisi dulu ya.”
Setelah Pak Sudin pergi kami membuka surat itu terlebih dahulu.
Assalamualaikum
Untuk Bapak dan Ibu yang baik,
Maafkan saya tidak tahu nama bapak dan ibu. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan bapak dan ibu kepada saya. Cucu saya sudah diwisuda. Saya tidak mampu membalas kebaikan bapak dan ibu, tetapi saya selalu berdoa agar Allah senantiasa melimpahkan rahmatnya untuk bapak sekeluarga. Semoga selalu sehat dan diberikan rejeki yang berkah. Aamiin. Ini ada buah mangga yang saya petik dari pohon saya sendiri, hanya ini yang bisa saya berikan. Tolong diterima.
Sekali lagi terima kasih.
Wassalam...
Kakek Musa
Kami membuka bungkusan plastik itu, nampaklah sekantong buah mangga yang ranum. Buah mangga adalah buah kesukaan suami dan puteraku. Terima kasih Kakek.... Dan kini kami tahu namamu adalah Kakek Musa.
SEKIAN
Cerita ini 90% berdasarkan kisah nyata dan selebihnya improvisasi dari penulis.
Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.
Tampilkan postingan dengan label Untuk Sesama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Untuk Sesama. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 Desember 2019
Menolong Tanpa Batas? (Bagian 2)
Jam dinding menunjukkan pukul 15.30 saat aku masuk ke dalam rumah setelah kepergian kakek itu.
Si kakak rupanya sudah siap untuk berangkat ke tempat les bahasa Inggrisnya. Suamiku pun sudah siap untuk mengantarkannya.
Setelah berpamitan padaku mereka pun pergi.
Ku lihat puteri kecilku masih terlelap dalam tidur sorenya. Ku raih telepon genggamku, rupanya ada pesan whatsapp yang masuk dari adik perempuanku.
"Kak, aku lagi mumet nih. Aku bingung harus bagaimana. Belakangan ini ku perhatikan nenek uring-uringan. Feelingku sih dia lagi tak punya uang. Kakak tau kan penghasilanku berapa, aku yang menanggung kebutuhan rumah, tak mungkin lagi ku tambahkan jatahnya." Begitulah bunyi pesan whatsapp-nya.
Adik perempuanku itu namanya Wulan. Seorang janda beranak dua. Suaminya meninggal setahun silam di usianya yang baru tiga puluh tahun karena sakit. Kedua anaknya lelaki, yang pertama berusia delapan tahun dan yang bungsu seusia puteri bungsuku. Selama ini mereka tinggal di rumah orang tua suaminya di kampung. Setelah suaminya meninggal, Wulan tetap tinggal di sana atas permintaan ayah mertuanya yang ingin tetap dekat dengan cucu-cucunya sebagai pengganti puteranya yang telah tiada. Sepeninggal suaminya, Wulan yang tadinya hanya menjadi ibu rumah tangga pun harus bekerja. Dengan bekal ijazah D-III keperawatannya Wulan diterima sebagai tenaga kontrak di RSUD dengan gaji enam ratus ribu rupiah per bulan.
Selain itu Wulan kadang mengobati orang-orang yang sakit di kampung itu dengan bayaran seadanya. Dari penghasilannya itu Wulan harus membiayai kebutuhan hidup dirinya, kedua anaknya, nenek kakek (mertuanya) dan seorang adik iparnya yang berusia sepuluh tahun. Wulan selalu bilang "asal sudah ada beras aku sudah tenang, sayur bisa petik di kebun kakek ala kadarnya, apapun yang bisa dipetik. Ikan disini tak begitu mahal, kadang kakekpun suka memancing ke laut."
Gaji Wulan memang hanya cukup untuk membeli beras dan beberapa kebutuhan lainnya. Seratus ribu rupiah menjadi jatah bulanan nenek (ibu mertuanya) untuk menjaga anak bungsu Wulan saat dia pergi bekerja.
"Tambahkanlah saja jatahnya, mungkin saja ada yang ingin dibelinya. Senangkanlah hati mertuamu supaya dia menjaga anakmu dengan baik. Besok kakak gajian, kakak transfer ke rekeningmu untuk tambahan uang jatah nenek, juga untuk uang jajan anak-anakmu." Ku balas chatting-nya.
---
Pukul 16.30 suamiku bergegas untuk menjemput si kakak dari les bahasa Inggrisnya. Waktu berlalu hingga pukul 17.30.
"Ahh...kenapa lama sekali mereka belum pulang", batinku.
Tak lama kemudian... ""Assalamualaikum..."
Si kakak datang sambil membawa kantong plastik berwarna hitam.
"Waalaikumsalam. Kok baru sampai rumah?"
"Tadi waktu jalan pulang, aku lewat jalan pinggir pantai, rupanya bertemu teman lalu diajak ngobrol dan ditawari minum. Tapi si kakak tak mau lama-lama, jadi kelapa mudanya dibawa pulang saja. Kelapanya dibayarin temanku itu" Suamiku menjawab pertanyaanku.
Kuraih kantong plastik yang dibawa kakak, dua buah kelapa hijau yang telah dikupas kulit luarnya.
"Pi..bukain dong kelapanya, aku mau minum airnya dulu, habis itu belahin ya aku mau makan kelapanya. Tidak usah pakai es dan sirup, aku mau makan begini saja." Si kakak nampak kegirangan sambil menggendong satu buah kelapa itu.
"Ya... Allah... Sungguh Engkaulah sebaik-baiknya penolong. Uang terakhirku yang hendak ku pakai membelikan kakak kelapa muda sudah kuberikan pada kakek itu. Tapi tak Kau biarkan puteraku bersedih. Dia tetap mendapatkan kelapa mudanya." Aku berkata di dalam hatiku sambil tersenyum menatap putera kesayanganku.
Seketika aku teringat perkataan seorang Ustadz yang senantiasa ku dengar tauziahnya di televisi setiap pagi sembari mondar mandir menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum berangkat ke kantor.
"Berilah pertolongan bila ada yang meminta bantuan tanpa harus berprasangka buruk kepadanya. Lakukan pertolonganmu hanya karena dan untuk Allah. Kendatipun orang yang meminta pertolongan mungkin hanya menipu, itu adalah urusan dia dengan Allah."
---
Hari ini tangal satu. Gaji kami sudah masuk ke rekening walaupun ini hari Minggu.
Aku mulai membuat daftar pengeluaranku bulan ini. Jumlah gajiku dan suamiku enam juta tujuh ratus ribu rupiah. Belanja bulanan termasuk susu anak-anak dua juta lima ratus ribu rupiah. Belanja bahan makanan sebulan satu juta rupiah. Bayar listrik dan air empat ratus lima puluh ribu rupiah. Uang saku kakak ke sekolah dua ratus lima puluh ribu rupiah sebulan. Uang jajan aku dan suamiku saat di kantor masing-masing lima ratus ribu rupiah. Kami perlu uang saku untuk membeli cemilan saat sedang bekerja di kantor. Gaji Mbak Sima satu juta rupiah. Ya..tetap ku anggarkan pembayaran gaji Mbak Sima walaupun dia bilang menggadaikan gajinya saat meminjam uang untuk saudaranya. Biarkanlah saat saudaranya itu membayar hutang kepada Mbak Sima baru ku terima. Kalau ku ambil dari gaji Mbak Sima, mau makan apa dia dan ibunya. Tiga ratus ribu rupiah akan ku kirimkan untuk adikku. Sisanya dua ratus ribu rupiah kujadikan dana cadangan bila sewaktu-waktu kami sakit, kami butuh dana untuk ke dokter. Apalagi saat ini musim panas, anak-anak rentan panas dan batuk.
Dering telepon genggam suamiku mengagetkanku di tengah keasikanku membuat catatan daftar pengeluaran.
"Halo... Gimana Ndra? Apa? Terus gimana? Iya bawa saja ke rumah sakit sekarang. Nanti mas kirim." Tut..tut..tut
"Siapa Pi?" Tanyaku penasaran.
"Indra Mi. Bapak mau dibawa ke rumah sakit, katanya muntah-muntah dan badannya sudah lemas. Tadi Indra telepon sambil nangis-nangis, terus teleponnya putus. Kayaknya dia buru-buru. Mi...kita kirim sejuta ya ke rekening Ibu buat biaya rumah sakit."
Rupanya Indra adik suamiku yang menelepon. "Ya...Allah semoga Bapak baik-baik saja. Iya Pi segera kirim uangnya."
Satu juta rupiah biarlah diambil dari jatah uang jajanku dan suamiku. Biarlah bulan ini kami menahan sedikit rasa ingin ngemil kami saat di kantor. Tak mengapa asal Bapak segera mendapat perawatan.
"Ayo Mi kita ke ATM sekarang, sekalian kita kirimkan uang Dik Wulan."
"Iya Pi." Ku ambil dompetku, lalu ku gendong puteri kecilku. Sesaat ketika kami akan membuka pintu rumah terdengar suara dari luar.
"Assalamualaikum.... Assalamualaikum."
"Mi....Kakek itu datang lagi!" Suamiku berkata datar namun dengan ekspresi wajahnya yang kaget usai mengintip dari celah jendela.
"Subhanallah..." Ku hanya dapat mengeluarkan kata itu lalu diam terpaku.
Ya...Allah... Apakah Engkau sedang menguji kami. Apakah kakek itu datang hendak menagih perkataanku kemarin? Apakah kakek itu tahu hari ini kami gajian? Kami sudah tak punya kelebihan uang untuk bulan ini. Tak mungkin ku kurangi dari belanja bulanan kami yang sudah kuhitung pas. Harga susu anak-anak tak bisa ditawar. Tak mungkin juga dari uang belanja bahan makanan kami. Anak-anakku masih dalam masa pertumbuhan, mereka butuh asupan gizi yang cukup. Apalagi uang yang akan ku kirim untuk adikku. Anak-anaknya yatim, mereka memerlukan bantuanku. Uang jajanku dan suamiku akan kukirimkan untuk mertuaku.
Ya... Allah... Apakah tak ada batas untuk menolong?
Bersambung
Si kakak rupanya sudah siap untuk berangkat ke tempat les bahasa Inggrisnya. Suamiku pun sudah siap untuk mengantarkannya.
Setelah berpamitan padaku mereka pun pergi.
Ku lihat puteri kecilku masih terlelap dalam tidur sorenya. Ku raih telepon genggamku, rupanya ada pesan whatsapp yang masuk dari adik perempuanku.
"Kak, aku lagi mumet nih. Aku bingung harus bagaimana. Belakangan ini ku perhatikan nenek uring-uringan. Feelingku sih dia lagi tak punya uang. Kakak tau kan penghasilanku berapa, aku yang menanggung kebutuhan rumah, tak mungkin lagi ku tambahkan jatahnya." Begitulah bunyi pesan whatsapp-nya.
Adik perempuanku itu namanya Wulan. Seorang janda beranak dua. Suaminya meninggal setahun silam di usianya yang baru tiga puluh tahun karena sakit. Kedua anaknya lelaki, yang pertama berusia delapan tahun dan yang bungsu seusia puteri bungsuku. Selama ini mereka tinggal di rumah orang tua suaminya di kampung. Setelah suaminya meninggal, Wulan tetap tinggal di sana atas permintaan ayah mertuanya yang ingin tetap dekat dengan cucu-cucunya sebagai pengganti puteranya yang telah tiada. Sepeninggal suaminya, Wulan yang tadinya hanya menjadi ibu rumah tangga pun harus bekerja. Dengan bekal ijazah D-III keperawatannya Wulan diterima sebagai tenaga kontrak di RSUD dengan gaji enam ratus ribu rupiah per bulan.
Selain itu Wulan kadang mengobati orang-orang yang sakit di kampung itu dengan bayaran seadanya. Dari penghasilannya itu Wulan harus membiayai kebutuhan hidup dirinya, kedua anaknya, nenek kakek (mertuanya) dan seorang adik iparnya yang berusia sepuluh tahun. Wulan selalu bilang "asal sudah ada beras aku sudah tenang, sayur bisa petik di kebun kakek ala kadarnya, apapun yang bisa dipetik. Ikan disini tak begitu mahal, kadang kakekpun suka memancing ke laut."
Gaji Wulan memang hanya cukup untuk membeli beras dan beberapa kebutuhan lainnya. Seratus ribu rupiah menjadi jatah bulanan nenek (ibu mertuanya) untuk menjaga anak bungsu Wulan saat dia pergi bekerja.
"Tambahkanlah saja jatahnya, mungkin saja ada yang ingin dibelinya. Senangkanlah hati mertuamu supaya dia menjaga anakmu dengan baik. Besok kakak gajian, kakak transfer ke rekeningmu untuk tambahan uang jatah nenek, juga untuk uang jajan anak-anakmu." Ku balas chatting-nya.
---
Pukul 16.30 suamiku bergegas untuk menjemput si kakak dari les bahasa Inggrisnya. Waktu berlalu hingga pukul 17.30.
"Ahh...kenapa lama sekali mereka belum pulang", batinku.
Tak lama kemudian... ""Assalamualaikum..."
Si kakak datang sambil membawa kantong plastik berwarna hitam.
"Waalaikumsalam. Kok baru sampai rumah?"
"Tadi waktu jalan pulang, aku lewat jalan pinggir pantai, rupanya bertemu teman lalu diajak ngobrol dan ditawari minum. Tapi si kakak tak mau lama-lama, jadi kelapa mudanya dibawa pulang saja. Kelapanya dibayarin temanku itu" Suamiku menjawab pertanyaanku.
Kuraih kantong plastik yang dibawa kakak, dua buah kelapa hijau yang telah dikupas kulit luarnya.
"Pi..bukain dong kelapanya, aku mau minum airnya dulu, habis itu belahin ya aku mau makan kelapanya. Tidak usah pakai es dan sirup, aku mau makan begini saja." Si kakak nampak kegirangan sambil menggendong satu buah kelapa itu.
"Ya... Allah... Sungguh Engkaulah sebaik-baiknya penolong. Uang terakhirku yang hendak ku pakai membelikan kakak kelapa muda sudah kuberikan pada kakek itu. Tapi tak Kau biarkan puteraku bersedih. Dia tetap mendapatkan kelapa mudanya." Aku berkata di dalam hatiku sambil tersenyum menatap putera kesayanganku.
Seketika aku teringat perkataan seorang Ustadz yang senantiasa ku dengar tauziahnya di televisi setiap pagi sembari mondar mandir menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum berangkat ke kantor.
"Berilah pertolongan bila ada yang meminta bantuan tanpa harus berprasangka buruk kepadanya. Lakukan pertolonganmu hanya karena dan untuk Allah. Kendatipun orang yang meminta pertolongan mungkin hanya menipu, itu adalah urusan dia dengan Allah."
---
Hari ini tangal satu. Gaji kami sudah masuk ke rekening walaupun ini hari Minggu.
Aku mulai membuat daftar pengeluaranku bulan ini. Jumlah gajiku dan suamiku enam juta tujuh ratus ribu rupiah. Belanja bulanan termasuk susu anak-anak dua juta lima ratus ribu rupiah. Belanja bahan makanan sebulan satu juta rupiah. Bayar listrik dan air empat ratus lima puluh ribu rupiah. Uang saku kakak ke sekolah dua ratus lima puluh ribu rupiah sebulan. Uang jajan aku dan suamiku saat di kantor masing-masing lima ratus ribu rupiah. Kami perlu uang saku untuk membeli cemilan saat sedang bekerja di kantor. Gaji Mbak Sima satu juta rupiah. Ya..tetap ku anggarkan pembayaran gaji Mbak Sima walaupun dia bilang menggadaikan gajinya saat meminjam uang untuk saudaranya. Biarkanlah saat saudaranya itu membayar hutang kepada Mbak Sima baru ku terima. Kalau ku ambil dari gaji Mbak Sima, mau makan apa dia dan ibunya. Tiga ratus ribu rupiah akan ku kirimkan untuk adikku. Sisanya dua ratus ribu rupiah kujadikan dana cadangan bila sewaktu-waktu kami sakit, kami butuh dana untuk ke dokter. Apalagi saat ini musim panas, anak-anak rentan panas dan batuk.
Dering telepon genggam suamiku mengagetkanku di tengah keasikanku membuat catatan daftar pengeluaran.
"Halo... Gimana Ndra? Apa? Terus gimana? Iya bawa saja ke rumah sakit sekarang. Nanti mas kirim." Tut..tut..tut
"Siapa Pi?" Tanyaku penasaran.
"Indra Mi. Bapak mau dibawa ke rumah sakit, katanya muntah-muntah dan badannya sudah lemas. Tadi Indra telepon sambil nangis-nangis, terus teleponnya putus. Kayaknya dia buru-buru. Mi...kita kirim sejuta ya ke rekening Ibu buat biaya rumah sakit."
Rupanya Indra adik suamiku yang menelepon. "Ya...Allah semoga Bapak baik-baik saja. Iya Pi segera kirim uangnya."
Satu juta rupiah biarlah diambil dari jatah uang jajanku dan suamiku. Biarlah bulan ini kami menahan sedikit rasa ingin ngemil kami saat di kantor. Tak mengapa asal Bapak segera mendapat perawatan.
"Ayo Mi kita ke ATM sekarang, sekalian kita kirimkan uang Dik Wulan."
"Iya Pi." Ku ambil dompetku, lalu ku gendong puteri kecilku. Sesaat ketika kami akan membuka pintu rumah terdengar suara dari luar.
"Assalamualaikum.... Assalamualaikum."
"Mi....Kakek itu datang lagi!" Suamiku berkata datar namun dengan ekspresi wajahnya yang kaget usai mengintip dari celah jendela.
"Subhanallah..." Ku hanya dapat mengeluarkan kata itu lalu diam terpaku.
Ya...Allah... Apakah Engkau sedang menguji kami. Apakah kakek itu datang hendak menagih perkataanku kemarin? Apakah kakek itu tahu hari ini kami gajian? Kami sudah tak punya kelebihan uang untuk bulan ini. Tak mungkin ku kurangi dari belanja bulanan kami yang sudah kuhitung pas. Harga susu anak-anak tak bisa ditawar. Tak mungkin juga dari uang belanja bahan makanan kami. Anak-anakku masih dalam masa pertumbuhan, mereka butuh asupan gizi yang cukup. Apalagi uang yang akan ku kirim untuk adikku. Anak-anaknya yatim, mereka memerlukan bantuanku. Uang jajanku dan suamiku akan kukirimkan untuk mertuaku.
Ya... Allah... Apakah tak ada batas untuk menolong?
Bersambung
Menolong Tanpa Batas? (Bagian 1)
"Tolonglah Bu, kalau tidak melunasi biayanya cucu saya tidak bisa ikut wisuda tahun ini." Kata kakek yang duduk di hadapanku.
"Berapa biaya yang harus dibayar?" Tanyaku pelan.
"Tiga juta lima ratus. Tapi saya sudah punya dua juta sembilan ratus dari menjual ternak saya, kurang enam ratus ribu lagi. Kalau ibu bersedia memberi sisanya, saya akan sangat berterima kasih. Tapi kalau tidak, mungkin setengahnya." Jawabnya dengan mata berbinar.
"Astagfirullah..." Kataku seketika, membuatnya agak terkejut.
Ya, kakek itu hendak meminta, bukan meminjam. Ingatanku kembali ke kejadian empat bulan yang lalu, sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Kala itu aku, suamiku, dan kedua anakku baru pulang berbelanja untuk keperluan lebaran. Ketika hendak masuk rumah, seorang kakek tiba-tiba datang menghampiri kami. Entah dari mana datangnya, sehingga membuatku terkaget.
"Ibu... Tolonglah saya. Berikan saya uang untuk ongkos pulang ke kampung saya."
"Kakek duduklah dulu, tunggu sebentar." Kataku sambil mempersilahkannya duduk di kursi teras.
Ku bawa anak-anakku masuk ke rumah, sedangkan suamiku sempat berbicara sebentar dengan kakek itu.
"Kampung bapak dimana?" Tanya suamiku.
"Di pulau kecil seberang itu." Jawab si kakek.
"Ke pulau itu berapa biayanya? Tanya suamiku lagi.
"Menyeberang dengan perahu speed lima belas ribu. Saya sama sekali tidak punya uang. Tolonglah beri saya lima belas ribu untuk ongkos pulang." Jawab kakek itu lagi.
Suamiku masuk ke dalam rumah, dan berkata padaku, "Berikanlah dia uang, kasihan kakek itu."
Ku buka dompetku, ku hitung lembaran rupiah sisa belanja tadi. Tak mungkin kuberi dia pas lima belas ribu, apalagi besok lebaran. Biarlah ini menjadi hadiah lebaran untuknya, pikirku. Seratus ribu rupiah, aku masih punya sejumlah itu. Ku lipat uang itu sambil tersenyum. Ketika hendak melangkah keluar, ku teringat sesuatu. Ku langkahkan kakiku ke dapur, ku ambil dua botol sirup dan satu pak mie kering. Ku bungkus dengan kantong plastik, lalu berjalan keluar menemui kakek itu.
"Kek, ambillah ini." Kataku sambil menyerahkan uang dan bungkusan plastik itu.
Kakek itu membuka lipatan uang dan menghitungnya.
"Alhamdulillah." Kata kakek itu dengan mata berbinar seolah tak percaya dengan jumlah yang dihitungnya.
"Yang di plastik itu sirup dan mie kering, bisa dimasak jadi mie goreng untuk lebaran besok." Kataku sambil tersenyum.
"Terima kasih Bu. Saya permisi dulu, harus segera karena hari sudah hampir magrib, tak lama lagi waktunya berbuka."
Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum mengiringi langkahnya meninggalkan rumah kami.
---
"Assalamualaikum.... Assalamualaikum..." Terdengar suara lirih seorang pria di depan rumah kami.
Suamiku keluar dan menemui tamu tersebut.
"Waalaikumsalam.... Bapak mau bertemu dengan siapa ya?" Tanya suamiku pada pria baya yang berdiri di depannya.
"Saya mau ketemu ibu, pak. Saya mau minta bantuan lagi." Kata kakek itu.
"Maksud bapak, ibu siapa ya? Mau minta bantuan bagaimana ya?" Rupanya suamiku telah lupa pada sosok kakek yang pernah datang empat bulan silam itu.
"Istri bapak pernah memberi saya uang dan makanan. Sekarang saya butuh bantuan lagi, cucu saya mau wisuda dan harus membayar dulu."
Suami saya nampak kebingungan lalu menyuruh kakek itu menunggu dan dia pun masuk ke dalam rumah.
Di dalam kamar dia menceritakan kedatangan kakek itu padaku.
"Apa kita masih punya uang?" Tanya suamiku.
"Seratus ribu." Jawabku.
"Berikanlah saja uang itu, besok kan kita gajian." Kata suamiku, sambil menunjuk kalender yang memperlihatkan hari ini tanggal tiga puluh, dan besok tanggal satu.
Aku mengangguk, ku ambil uang seratus ribu rupiah itu dari dompetku. Ku tatap sesaat, lalu ku masukkan dalam saku celana panjangku. Aku berjalan keluar rumah, sambil membayangkan puteraku si kakak yang ku janjikan minum es kelapa muda di tepi pantai sore nanti sepulang les bahasa inggrisnya. Ahh...semoga saja Miss Tina mengakhiri les lebih sore hari ini supaya aku punya alasan pada si kakak bila hari terlalu sore untuk minum es kelapa.
Teringat si kakak, akupun teringat kejadian hari kemarin. Uang yang ku tabung untuk memenuhi janjiku pada puteraku, liburan ke hotel berbintang yang ada kolam renangnya saat libur semester bulan depan, telah kupinjamkan pada Mbak Sima. Bagaimana mungkin aku tak membantu Mbak Sima, dia menjaga puteriku yang belum genap dua tahun usianya itu dengan baik saat aku kerja.
"Bu...maaf, bisakah ibu membantu saya?"
"Bantu apa mbak, katakanlah?"
"Saudara saya mau meminjam uang pada saya untuk membayar cicilan motornya. Tapi saya tidak punya uang. Dia perlu satu juta, apakah ibu bisa membantu meminjamkannya? Gaji saya bulan depan jadi jaminannya bu."
"Mbak Sima tidak perlu menggadaikan gaji, sebentar ya mbak."
Ku masuk ke dalam kamar, mengambil amplop yang ada di dalam tasku. Ku hitung jumlahnya, genap satu juta rupiah.
---
"Kek, saya hanya bisa memberi kakek segini." Kataku sambil mengambil uang seratus ribu rupiah dari saku celanaku.
"Bu...tambahkanlah lagi. Bila cuma segitu saya harus mencari kurangnya masih banyak lagi."
"Kek, uang yang saya punya sisa ini. Kakek datang di penghujung bulan."
"Baiklah bu, saya terima uangnya. Tapi apa nanti saya boleh datang lagi?"
Ku tarik nafasku, kupahami maksud perkataannya lalu berkata "Tentu boleh, bila ada rejeki lagi tentu kami akan berbagi."
Kakek itu lalu pamit dan berjalan pergi meninggalkan rumah kami. Ku pandangi langkahnya hingga tak nampak lagi dari penglihatanku.
Bersambung
"Berapa biaya yang harus dibayar?" Tanyaku pelan.
"Tiga juta lima ratus. Tapi saya sudah punya dua juta sembilan ratus dari menjual ternak saya, kurang enam ratus ribu lagi. Kalau ibu bersedia memberi sisanya, saya akan sangat berterima kasih. Tapi kalau tidak, mungkin setengahnya." Jawabnya dengan mata berbinar.
"Astagfirullah..." Kataku seketika, membuatnya agak terkejut.
Ya, kakek itu hendak meminta, bukan meminjam. Ingatanku kembali ke kejadian empat bulan yang lalu, sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Kala itu aku, suamiku, dan kedua anakku baru pulang berbelanja untuk keperluan lebaran. Ketika hendak masuk rumah, seorang kakek tiba-tiba datang menghampiri kami. Entah dari mana datangnya, sehingga membuatku terkaget.
"Ibu... Tolonglah saya. Berikan saya uang untuk ongkos pulang ke kampung saya."
"Kakek duduklah dulu, tunggu sebentar." Kataku sambil mempersilahkannya duduk di kursi teras.
Ku bawa anak-anakku masuk ke rumah, sedangkan suamiku sempat berbicara sebentar dengan kakek itu.
"Kampung bapak dimana?" Tanya suamiku.
"Di pulau kecil seberang itu." Jawab si kakek.
"Ke pulau itu berapa biayanya? Tanya suamiku lagi.
"Menyeberang dengan perahu speed lima belas ribu. Saya sama sekali tidak punya uang. Tolonglah beri saya lima belas ribu untuk ongkos pulang." Jawab kakek itu lagi.
Suamiku masuk ke dalam rumah, dan berkata padaku, "Berikanlah dia uang, kasihan kakek itu."
Ku buka dompetku, ku hitung lembaran rupiah sisa belanja tadi. Tak mungkin kuberi dia pas lima belas ribu, apalagi besok lebaran. Biarlah ini menjadi hadiah lebaran untuknya, pikirku. Seratus ribu rupiah, aku masih punya sejumlah itu. Ku lipat uang itu sambil tersenyum. Ketika hendak melangkah keluar, ku teringat sesuatu. Ku langkahkan kakiku ke dapur, ku ambil dua botol sirup dan satu pak mie kering. Ku bungkus dengan kantong plastik, lalu berjalan keluar menemui kakek itu.
"Kek, ambillah ini." Kataku sambil menyerahkan uang dan bungkusan plastik itu.
Kakek itu membuka lipatan uang dan menghitungnya.
"Alhamdulillah." Kata kakek itu dengan mata berbinar seolah tak percaya dengan jumlah yang dihitungnya.
"Yang di plastik itu sirup dan mie kering, bisa dimasak jadi mie goreng untuk lebaran besok." Kataku sambil tersenyum.
"Terima kasih Bu. Saya permisi dulu, harus segera karena hari sudah hampir magrib, tak lama lagi waktunya berbuka."
Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum mengiringi langkahnya meninggalkan rumah kami.
---
"Assalamualaikum.... Assalamualaikum..." Terdengar suara lirih seorang pria di depan rumah kami.
Suamiku keluar dan menemui tamu tersebut.
"Waalaikumsalam.... Bapak mau bertemu dengan siapa ya?" Tanya suamiku pada pria baya yang berdiri di depannya.
"Saya mau ketemu ibu, pak. Saya mau minta bantuan lagi." Kata kakek itu.
"Maksud bapak, ibu siapa ya? Mau minta bantuan bagaimana ya?" Rupanya suamiku telah lupa pada sosok kakek yang pernah datang empat bulan silam itu.
"Istri bapak pernah memberi saya uang dan makanan. Sekarang saya butuh bantuan lagi, cucu saya mau wisuda dan harus membayar dulu."
Suami saya nampak kebingungan lalu menyuruh kakek itu menunggu dan dia pun masuk ke dalam rumah.
Di dalam kamar dia menceritakan kedatangan kakek itu padaku.
"Apa kita masih punya uang?" Tanya suamiku.
"Seratus ribu." Jawabku.
"Berikanlah saja uang itu, besok kan kita gajian." Kata suamiku, sambil menunjuk kalender yang memperlihatkan hari ini tanggal tiga puluh, dan besok tanggal satu.
Aku mengangguk, ku ambil uang seratus ribu rupiah itu dari dompetku. Ku tatap sesaat, lalu ku masukkan dalam saku celana panjangku. Aku berjalan keluar rumah, sambil membayangkan puteraku si kakak yang ku janjikan minum es kelapa muda di tepi pantai sore nanti sepulang les bahasa inggrisnya. Ahh...semoga saja Miss Tina mengakhiri les lebih sore hari ini supaya aku punya alasan pada si kakak bila hari terlalu sore untuk minum es kelapa.
Teringat si kakak, akupun teringat kejadian hari kemarin. Uang yang ku tabung untuk memenuhi janjiku pada puteraku, liburan ke hotel berbintang yang ada kolam renangnya saat libur semester bulan depan, telah kupinjamkan pada Mbak Sima. Bagaimana mungkin aku tak membantu Mbak Sima, dia menjaga puteriku yang belum genap dua tahun usianya itu dengan baik saat aku kerja.
"Bu...maaf, bisakah ibu membantu saya?"
"Bantu apa mbak, katakanlah?"
"Saudara saya mau meminjam uang pada saya untuk membayar cicilan motornya. Tapi saya tidak punya uang. Dia perlu satu juta, apakah ibu bisa membantu meminjamkannya? Gaji saya bulan depan jadi jaminannya bu."
"Mbak Sima tidak perlu menggadaikan gaji, sebentar ya mbak."
Ku masuk ke dalam kamar, mengambil amplop yang ada di dalam tasku. Ku hitung jumlahnya, genap satu juta rupiah.
---
"Kek, saya hanya bisa memberi kakek segini." Kataku sambil mengambil uang seratus ribu rupiah dari saku celanaku.
"Bu...tambahkanlah lagi. Bila cuma segitu saya harus mencari kurangnya masih banyak lagi."
"Kek, uang yang saya punya sisa ini. Kakek datang di penghujung bulan."
"Baiklah bu, saya terima uangnya. Tapi apa nanti saya boleh datang lagi?"
Ku tarik nafasku, kupahami maksud perkataannya lalu berkata "Tentu boleh, bila ada rejeki lagi tentu kami akan berbagi."
Kakek itu lalu pamit dan berjalan pergi meninggalkan rumah kami. Ku pandangi langkahnya hingga tak nampak lagi dari penglihatanku.
Bersambung
Jumat, 22 November 2019
Keriyaanmu Ternyata Jalan Bahagiaku
“Ahhh...selesai juga kerjaan hari ini.”
Ku tutup berkas-berkas di mejaku dan ku masukkan ke dalam laci di bawah meja. Begitu juga dengan seluruh aplikasi kantor yang terbuka di komputerku. Sesaat ku ambil handphoneku, ku hempaskan punggungku ke sandaran kursi dan mulai kubuka aplikasi media sosial yang tak pernah lupa untuk ku pantau setiap hari, facebook.
“Ahhh..dia lagi” batinku sambil terus mengamati foto-foto foto dan statusnya yang muncul di beranda facebook-ku.
Ya, dia Rasi teman SMAku. Sudah sangat lama aku tak berjumpa dengannya. Tepatnya sejak kami lulus SMA. Tetapi grup reuni SMA di facebook membuatku berteman dengannya di facebook dan akhirnya akupun bisa melihat dan mengetahui keadaannya saat ini, atau lebih tepatnya tahu tentang segala sesuatu yang dimilikinya sekarang.
Sebuah foto mobil baru berwarna kuning lengkap dengan status kebahagiaannya dan foto selfie keceriaannya. “Alhamdulillah....mobil baruku sudah datang, sesuai warna kesukaanku. Hasil kerja keras aku dan suamiku. Makasih ya sayang....semoga bisnis kita semakin lancar, dan rejeki kita semakin berlimpah”, begitulah bunyi statusnya dan tak lupa dia men-tag nama facebook suaminya “Remon”.
Padahal baru kemarin dia memposting tas barunya yang dibeli di luar negeri, yang harganya mungkin mencapai gajiku setahun. Ahh..apalah aku yang hanya seorang admin di kantor swasta, yang gaji bulanan hanya cukup untuk bayar kosan, kirim ke orang tuaku di kampung dan makan sehari-hari alakadarnya. Bedak dan lipstikkupun murahan, tapi bersyukurnya wajahku memang manis.
Remon, suami Rasi. Entah apa yang kemudian membuatku mengklik namanya dan melihat profil facebooknya. Hatiku berdegup kagum. Sungguh pria ini sangat memikat. Kaya dan tampan. Ahh..sebenarnya aku sudah sering melihat foto-fotonya bersama Rasi di beranda facebook-ku. Tentu saja dengan berbagai caption yang menunjukkan betapa bahagianya Rasi bersuamikan Remon. Kekayaannya, keromantisannya, kebaikannya tentu saja tak ada satu hal pun yang terlewatkan untuk diposting oleh Rasi.
Ohh...Rasi...mengapa engkau begitu riya? Mengapa kau pamerkan hartamu, kebahagiaanmu, dan terlebih suamimu? Salahkah aku bila kini ada perasaan lain di hatiku? Aku menginginkan menjadi dirimu!
Apakah itu mungkin? Rasi wanita yang cerdas, sejak SMA juara kelas. Tapi yang ku tahu dia sangat pelit, dia tak pernah mau memberikan contekan bila ada PR apalagi saat ujian. Rasi selalu bilang “berjuanglah bila kau menginginkan sesuatu”.
Lalu...inilah awal perjuanganku.... Ku klik tombol pesan di profil Remon, dan ku tuliskan “Hai”.
Setahun berlalu.... Saya Nera, istri sah Mas Remon.
Senin, 03 April 2017
GALAU KARENA "KERE" DALAM RUMAH TANGGA BARU
Setelah sekian lama tidak posting tulisan, kali ini saya ingin membahas topik ini terinspirasi dari pengalaman pribadi, hihihi....
GALAU...kata yang lagi trend khususnya di kalangan remaja, yang umumnya kegalauan terjadi akibat masalah percintaan. Yaa...para remaja memang hanya berkutat di seputar masalah itu, lihat saja status-status mereka di media sosial, kebanyakan bertopik tentang kegalauan percintaan (sebenarnya pengalaman pribadi juga sih waktu masih remaja, hihihi).
Rumah tangga baru...hmm... yang ada dalam benak kita pastinya sepasang suami isteri yang masih mesra-mesranya serta bahagia menjalani kehidupan baru mereka. Apalagi bila ditambah dengan kehadiran baby yang tentu membuat semua menjadi lebih indah. Tapiiiii.....di balik kebahagiaan itu pastinya ada juga problem yang timbul, dan yang paling banyak terjadi adalah financial problem.
Mengapa masalah keuangan itu terjadi?
Rumah tangga baru ibarat sebuah bisnis yang baru didirikan, butuh modal dan manajemen. Selanjutnya dalam perjalanannya timbullah biaya-biaya, terkadang biaya yang timbul itu melebihi jumlah pendapatan sehingga terjadilah defisit. Dalam rumah tangga baru, pasangan suami istri baru biasanya memikirkan untuk mandiri dengan memiliki rumah sendiri, selanjutnya setelah memiliki anak, mereka memikirkan untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya serta mulai memikirkan biaya pendidikannya kelak. Dengan pikiran "selagi masih muda" maka pasangan rumah tangga baru mulai melakukan investasi melalui bantuan perkreditan bank dan finance. Dan tarantaaammmm.....mulailah muncul masa-masa "kere" akibat banyaknya pengeluaran dan terasa cukup berat, apalagi untuk wanita yang sebelum menikah terbiasa dengan kesenangan-kesenangannya, hahahaha....
Sebuah solusi tentu sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan rumah tangga baru ini. Manajemen keuangan yang baik solusi terbaiknya. Tapi bagaimanakah itu manajemen keuangan yang baik? Tidak semua orang khusunya wanita sebagai ibu rumah tangga pengelola keuangan mampu melakukan manajemen keuangan yang baik. Sebuah cara saya akan coba tawarkan di sini yaitu meminimalisir pengeluaran konsumtif untuk pengeluaran produktif. Yang seperti apakah pengeluaran konsumtif dan pengeluaran produktif itu? Pengeluaran konsumtif ada pengeluaran untuk hal-hal yang bersifat konsumtif, habis pakai habis manfaat dan tidak memberikan nilai tambah yang berarti atas penggunaannya, dan pengertian sebaliknya untuk pengeluaran produktif. Dalam hal ini kita harus pandai-pandai memilah-milah mana pengeluaran yang memang harus terjadi. Untuk lebih jelas saya akan mencontohkan pengeluaran rutin dalam rumah tangga saya hehehe.
Biaya-biaya rutin yang keluar setiap bulan seperti kebutuhan anak (susu formula, pampers, telon, sabun, bedak, dll), kebutuhan rumah (sembako, dll), biaya listrik, biaya pulsa handphone, biaya makan siang di kantor, biaya jalan-jalan seminggu sekali, biaya bbm (mobil dan motor), ditambah cicilan rumah dan kendaraan. Hiksss....banyak banget ya pengeluaran bulanan. :(... Selanjutnya kita kelompokkan untuk pengeluaran yang memang harus terjadi seperti membayar cicilan rumah dan kendaraan, selain bersifat wajib juga bisa dikatakan sebagai pengeluaran produktif karena bersifat investasi jangka panjang dimana kita bisa memiliki aset berharga seperti rumah serta kendaraan yang sangat menunjang mobilitas kita sehari-hari. Sedangkan pengeluaran lainnya bersifat konsumtif, tetapi bagaimanapun pengeluaran tersebut tentu saja tidak bisa dihapuskan seluruhnya. Memang tidak bisa dihapuskan, tetapi kita masih bisa mengurangi kuantitasnya atau mungkin kualitasnya, ya tentu dengan solusi mengganti dengan barang subtitusi (barang sejenis yang manfaatnya sama tetapi berbeda kualitas, merek, dan harga). Sebagai contoh untuk pengurangan kuantitas seperti biaya jalan-jalan seminggu sekali, bisa dikurang menjadi sebulan sekali, pas pada saat kita keluar ke plaza atau swalayan untuk belanja bulanan. Tiga minggu lainnya kita bisa menikmati akhir pekan di rumah saja misalnya menemani anak menonton kartun kesukaannya, bermain sepeda bersama atau melakukan hal-hal menyenangkan lainnya di rumah. Contoh lain adalah penggunaan kendaraan, bila biasa saat ke kantor menggunakan mobil, yang menghabiskan lebih banyak bbm, maka lebih baik kita menggunakan motor saja, panas-panasan sedikit tak apa-apalah :). Mobil bisa digunakan saat-saat tertentu saja, mungkin saat jalan-jalan bersama keluarga. Sedangkan contoh untuk menggunakan barang substitusi misalnya untuk keperluan rumah tangga, seperti mengganti sabun mandi cair yang harganya lebih mahal dengan sabun mandi batangan yang harganya lebih murah, selain itu masih banyak lagi barang-barang keperluan rumah tangga yang bisa disubstitusi. Lalu pertanyaannya sampai kapan??? Tentu saja kita harus bersabar sampai neraca keuangan kita stabil. Seiring waktu biasanya jumlah pendapatan kita akan bertambah, dan jumlah cicilan akan berkurang (lunas).
Berbicara tentang barang konsumtif dan produktif, tentu terkait dengan pola hidup masyarakat Indonesia pada umumnya, ya..bisa dibilang pola hidup kita adalah konsumtif, sangat senang dan bangga berbelanja barang-barang mewah dan impor, padahal yang terpenting dan terbaik adalah kita memakai apa yang kita rasa nyaman walaupun harganya murah. Tapi yang repot ya kalau memang nyamannya kalo pakai yang maha sih, hehehe....
Ya....pada akhirnya kembali ke diri kita masing-masing guys .....
Semoga artikel ini bermanfaat..... See u later....
Sebuah solusi tentu sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan rumah tangga baru ini. Manajemen keuangan yang baik solusi terbaiknya. Tapi bagaimanakah itu manajemen keuangan yang baik? Tidak semua orang khusunya wanita sebagai ibu rumah tangga pengelola keuangan mampu melakukan manajemen keuangan yang baik. Sebuah cara saya akan coba tawarkan di sini yaitu meminimalisir pengeluaran konsumtif untuk pengeluaran produktif. Yang seperti apakah pengeluaran konsumtif dan pengeluaran produktif itu? Pengeluaran konsumtif ada pengeluaran untuk hal-hal yang bersifat konsumtif, habis pakai habis manfaat dan tidak memberikan nilai tambah yang berarti atas penggunaannya, dan pengertian sebaliknya untuk pengeluaran produktif. Dalam hal ini kita harus pandai-pandai memilah-milah mana pengeluaran yang memang harus terjadi. Untuk lebih jelas saya akan mencontohkan pengeluaran rutin dalam rumah tangga saya hehehe.
Biaya-biaya rutin yang keluar setiap bulan seperti kebutuhan anak (susu formula, pampers, telon, sabun, bedak, dll), kebutuhan rumah (sembako, dll), biaya listrik, biaya pulsa handphone, biaya makan siang di kantor, biaya jalan-jalan seminggu sekali, biaya bbm (mobil dan motor), ditambah cicilan rumah dan kendaraan. Hiksss....banyak banget ya pengeluaran bulanan. :(... Selanjutnya kita kelompokkan untuk pengeluaran yang memang harus terjadi seperti membayar cicilan rumah dan kendaraan, selain bersifat wajib juga bisa dikatakan sebagai pengeluaran produktif karena bersifat investasi jangka panjang dimana kita bisa memiliki aset berharga seperti rumah serta kendaraan yang sangat menunjang mobilitas kita sehari-hari. Sedangkan pengeluaran lainnya bersifat konsumtif, tetapi bagaimanapun pengeluaran tersebut tentu saja tidak bisa dihapuskan seluruhnya. Memang tidak bisa dihapuskan, tetapi kita masih bisa mengurangi kuantitasnya atau mungkin kualitasnya, ya tentu dengan solusi mengganti dengan barang subtitusi (barang sejenis yang manfaatnya sama tetapi berbeda kualitas, merek, dan harga). Sebagai contoh untuk pengurangan kuantitas seperti biaya jalan-jalan seminggu sekali, bisa dikurang menjadi sebulan sekali, pas pada saat kita keluar ke plaza atau swalayan untuk belanja bulanan. Tiga minggu lainnya kita bisa menikmati akhir pekan di rumah saja misalnya menemani anak menonton kartun kesukaannya, bermain sepeda bersama atau melakukan hal-hal menyenangkan lainnya di rumah. Contoh lain adalah penggunaan kendaraan, bila biasa saat ke kantor menggunakan mobil, yang menghabiskan lebih banyak bbm, maka lebih baik kita menggunakan motor saja, panas-panasan sedikit tak apa-apalah :). Mobil bisa digunakan saat-saat tertentu saja, mungkin saat jalan-jalan bersama keluarga. Sedangkan contoh untuk menggunakan barang substitusi misalnya untuk keperluan rumah tangga, seperti mengganti sabun mandi cair yang harganya lebih mahal dengan sabun mandi batangan yang harganya lebih murah, selain itu masih banyak lagi barang-barang keperluan rumah tangga yang bisa disubstitusi. Lalu pertanyaannya sampai kapan??? Tentu saja kita harus bersabar sampai neraca keuangan kita stabil. Seiring waktu biasanya jumlah pendapatan kita akan bertambah, dan jumlah cicilan akan berkurang (lunas).
Berbicara tentang barang konsumtif dan produktif, tentu terkait dengan pola hidup masyarakat Indonesia pada umumnya, ya..bisa dibilang pola hidup kita adalah konsumtif, sangat senang dan bangga berbelanja barang-barang mewah dan impor, padahal yang terpenting dan terbaik adalah kita memakai apa yang kita rasa nyaman walaupun harganya murah. Tapi yang repot ya kalau memang nyamannya kalo pakai yang maha sih, hehehe....
Ya....pada akhirnya kembali ke diri kita masing-masing guys .....
Semoga artikel ini bermanfaat..... See u later....
Jumat, 08 April 2011
Saat Sayap Peri Kecil Patah
Alkisah peri yang cantik dan baik hati, memiliki sayap yang indah serta nyanyian peri yang merdu. Suatu hari peri kecil merasa sangat bahagia, ia terbang ke sana kemari. Ia sedang berada di suatu tempat yang baru, sebuah hutan kecil yang begitu indah, ia berharap akan menemukan kawan-kawan baru di tempat itu. Ia pun mulai tersenyum dan menyapa setiap makhluk yang dijumpainya. Dengan segala keramahannya ia berusaha untuk berbaur dengan lingkungan barunya itu. Akan tetapi, apakah yang terjadi? Ternyata makhluk-makhluk baru itu tak menyambutnya dengan hangat, mereka justru saling berbisik-bisik ketika bertemu dengan si peri kecil.
"Coba lihat dia tersenyum pada kita, dia pikir senyumnya itu manis?".
"Dan lihatlah sayapnya, warnanya biasa-biasa saja, tapi dia merasa cantik."
Awalnya sang peri kecil tak bersedih dengan perlakuan yang diterimanya, sebab ia yakin pada suatu hari nanti, kawan-kawan barunya itu akan menyayangi dirinya. Hari demi hari pun berganti, tetapi sikap dan yang perlakuan yang diterima peri kecil tiada juga berubah, bahkan segala hinaan dan ketidakramahan pun diterimanya hingga pada suatu hari makhluk-makhluk hutan itu sepakat untuk lebih menyakiti si peri kecil. Mereka memasang sebuah jebakan untuk peri kecil, kemudian dengan sebuah siasat, mereka memanggil peri kecil untuk datang ke tempat itu. Ketika peri kecil datang, tanpa disadarinya bahwa ia memasuki wilayah jebakan itu, sang peri pun terjatuh dan sayapnya patah. Peri kecil merasa sangat kesakitan dan ia berteriak meminta pertolongan, tetapi tak satupun yang datang menolongnya. Peri kecil merasa sangat sedih. Ia pun berdoa pada Sang Pencipta agar segera menyembuhkan sayapnya yang patah. Ia berdoa tiada henti dengan air mata berlinangan di pipinya bahkan membasahi sekujur tubuhnya. Dalam doanya itu, tiba-tiba muncullah Ibu Peri dan menyembuhkan sayap si peri kecil. Peri Kecil pun merasa sangat bahagia, ia pun mengucapkan terima kasih pada ibu peri.
"Terima kasih ibu peri, telah menyembuhkan sayapku yang patah."
"Kau pantas menerimanya peri kecil, kau adalah peri kecil berhati baik, tak pantas menerima semua pesakitan ini. Dan sekarang katakanlah padaku apa yang kau kehendaki padaku agar ku lakukan pada makhluk-makhluk hutan ini yang telah menyakitimu."
"Tidak ibu peri, aku tak ingin membalas perbuatan mereka. Aku sedah merasa bersyukur dengan kesembuhan sayapku ini."
"Hatimu sungguh baik wahai peri kecil, dan sekarang terbanglah, tinggalkan tempat ini, kau akan menemukan sebuah tempat yang lebih baik dimana semua penghuninya akan menyayangimu."
Peri kecil pun terbang meninggalkan tempat itu, menuju sebuah hutan kecil yang lebih indah dan damai. Dan ia pun menemukan sahabat-sahabat baru yang menyayanginya d tempat itu.
Dan apakah yang terjadi dengan hutan yang ditinggalkannya? Ternyata dengan tongkat saktinya, Ibu Peri telah mengutuk hutan itu menjadi sebuah hutan yang kering. Tak ada lagi rumput-rumput hijau dan bunga-bunga indah. Penghuninya pun hidup sangat menderita akibat kekeringan itu.
"Coba lihat dia tersenyum pada kita, dia pikir senyumnya itu manis?".
"Dan lihatlah sayapnya, warnanya biasa-biasa saja, tapi dia merasa cantik."
Awalnya sang peri kecil tak bersedih dengan perlakuan yang diterimanya, sebab ia yakin pada suatu hari nanti, kawan-kawan barunya itu akan menyayangi dirinya. Hari demi hari pun berganti, tetapi sikap dan yang perlakuan yang diterima peri kecil tiada juga berubah, bahkan segala hinaan dan ketidakramahan pun diterimanya hingga pada suatu hari makhluk-makhluk hutan itu sepakat untuk lebih menyakiti si peri kecil. Mereka memasang sebuah jebakan untuk peri kecil, kemudian dengan sebuah siasat, mereka memanggil peri kecil untuk datang ke tempat itu. Ketika peri kecil datang, tanpa disadarinya bahwa ia memasuki wilayah jebakan itu, sang peri pun terjatuh dan sayapnya patah. Peri kecil merasa sangat kesakitan dan ia berteriak meminta pertolongan, tetapi tak satupun yang datang menolongnya. Peri kecil merasa sangat sedih. Ia pun berdoa pada Sang Pencipta agar segera menyembuhkan sayapnya yang patah. Ia berdoa tiada henti dengan air mata berlinangan di pipinya bahkan membasahi sekujur tubuhnya. Dalam doanya itu, tiba-tiba muncullah Ibu Peri dan menyembuhkan sayap si peri kecil. Peri Kecil pun merasa sangat bahagia, ia pun mengucapkan terima kasih pada ibu peri.
"Terima kasih ibu peri, telah menyembuhkan sayapku yang patah."
"Kau pantas menerimanya peri kecil, kau adalah peri kecil berhati baik, tak pantas menerima semua pesakitan ini. Dan sekarang katakanlah padaku apa yang kau kehendaki padaku agar ku lakukan pada makhluk-makhluk hutan ini yang telah menyakitimu."
"Tidak ibu peri, aku tak ingin membalas perbuatan mereka. Aku sedah merasa bersyukur dengan kesembuhan sayapku ini."
"Hatimu sungguh baik wahai peri kecil, dan sekarang terbanglah, tinggalkan tempat ini, kau akan menemukan sebuah tempat yang lebih baik dimana semua penghuninya akan menyayangimu."
Peri kecil pun terbang meninggalkan tempat itu, menuju sebuah hutan kecil yang lebih indah dan damai. Dan ia pun menemukan sahabat-sahabat baru yang menyayanginya d tempat itu.
Dan apakah yang terjadi dengan hutan yang ditinggalkannya? Ternyata dengan tongkat saktinya, Ibu Peri telah mengutuk hutan itu menjadi sebuah hutan yang kering. Tak ada lagi rumput-rumput hijau dan bunga-bunga indah. Penghuninya pun hidup sangat menderita akibat kekeringan itu.
Sabtu, 16 Oktober 2010
Perempuan, Pesona, dan Kelemahannya
Seindah-indahnya dunia ini, takkan lengkap bila tanpa adanya makhluk yang satu ini. Makhluk yang memang sengaja diciptakan Sang Pencipta untuk menambah keindahan dunia. Tetapi perempuan tidaklah hanya sekedar menjadi "makhluk penghias dunia", sebab di lain sisi dari kelemahlembutannya terdapat sebuah kekuatan untuk berjuang. Lihatlah beberapa pahlawan wanita kita seperti Ibu Kartini. Salah satu pejuang perempuan terbaik yang dimiliki bangsa kita.
Pesona seorang perempuan bukan hanya bisa menghanyutkan seorang pria tetapi juga menghanyutkan dunia . Namun demikian, perempuan tetaplah sosok yang lemah, bukan juga lemah secara fisik, tetapi juga lemah hatinya. Kelemahan hati itu terutama nampak ketika ia sedang jatuh cinta dan ketika ia tersakiti hatinya.
Suatu hari seorang gadis belia datang ke salah satu rumah di kompleks tempat tinggal kami. Dia mencari seorang pria yang sesungguhnya tak tinggal di situ, tetapi kami mengenal pria itu. Setelah mewawancarainya kami pun mengetahui bahwa ia masih kelas III SMK, masih sangat muda. Tetapi ia mati-matian mencari pria itu hanya sekadar untuk meminta kejelasan atas hubungan mereka, karena konon kekasih pria itu bukan hanya dirinya. Gadis itu terus saja menunggu dan tak mau pulang. Bila dipikir secara logika untuk apa dia harus sedemikian "ngototnya" hingga harus seperti itu. Dan semua itu adalah karena perempuan adalah sosok yang lemah hatinya.
Jika kita melihat contoh kasus tersebut, bisalah kita membayangkan betapa perempuan akan dengan mudahnya menjadi rapuh, depresi, dan frustasi hanya karena "cinta", karena tak mampu mengendalikan hati. Hati yang terlalu lemah dan bahkan me-nonrasionalkan pikirannya.
Pesona seorang perempuan bukan hanya bisa menghanyutkan seorang pria tetapi juga menghanyutkan dunia . Namun demikian, perempuan tetaplah sosok yang lemah, bukan juga lemah secara fisik, tetapi juga lemah hatinya. Kelemahan hati itu terutama nampak ketika ia sedang jatuh cinta dan ketika ia tersakiti hatinya.
Suatu hari seorang gadis belia datang ke salah satu rumah di kompleks tempat tinggal kami. Dia mencari seorang pria yang sesungguhnya tak tinggal di situ, tetapi kami mengenal pria itu. Setelah mewawancarainya kami pun mengetahui bahwa ia masih kelas III SMK, masih sangat muda. Tetapi ia mati-matian mencari pria itu hanya sekadar untuk meminta kejelasan atas hubungan mereka, karena konon kekasih pria itu bukan hanya dirinya. Gadis itu terus saja menunggu dan tak mau pulang. Bila dipikir secara logika untuk apa dia harus sedemikian "ngototnya" hingga harus seperti itu. Dan semua itu adalah karena perempuan adalah sosok yang lemah hatinya.
Jika kita melihat contoh kasus tersebut, bisalah kita membayangkan betapa perempuan akan dengan mudahnya menjadi rapuh, depresi, dan frustasi hanya karena "cinta", karena tak mampu mengendalikan hati. Hati yang terlalu lemah dan bahkan me-nonrasionalkan pikirannya.
Rabu, 07 Juli 2010
Harapan Itu Selalu Ada
Waktu kecil, saya selalu punya impian. Impian anak kecil begitu indah. Dalam bermimpi, yang ku percaya bahwa ada harapan di dalamnya. Sebuah mimpi dengan sebuah harapan menjadi imajinasi yang mendekati kenyataan. Setiap hari, sebelum tidur, saya pasti selalu memikirkannya, menghayalkannya, membawa diriku semakin dekat untuk menggapainya.
Dalam menggapai impian itu, tak selamanya jalan yang ku lalui mulus dan lancar. Kadang kala ada kerikil, bebatuan bahkan tak jarang bertemu jurang yang curam. Bahkan saya pun pernah terjatuh dan terluka. Namun itu semua, bukan dijadikan alasan untuk menyerah, justru saya menganggap "That is the art of life and dreams". Berbagai rintangan itulah yang menjadikan motivasi untuk terus berjuang. Tercapainya impian itu sebenarnya bukanlah tujuan, tetapi mengalahkan rintangan itulah yang membuat saya akan merasakan kemenangan itu ada untukku.
Hari ini, saya mendapatkan satu impianku. Namun, di balik kebahagiaan ini, ada sebuah perjuangan yang akan ku tempuh. Ada pengorbanan yang akan sangat membutuhkan kesabaran dan kelapangan hati. Tapi saya percaya bahwa harapan itu selalu ada. Dan suatu hari nanti, harapan itu akan membawa impianku yang selanjutnya pada kenyataan.
Dalam menggapai impian itu, tak selamanya jalan yang ku lalui mulus dan lancar. Kadang kala ada kerikil, bebatuan bahkan tak jarang bertemu jurang yang curam. Bahkan saya pun pernah terjatuh dan terluka. Namun itu semua, bukan dijadikan alasan untuk menyerah, justru saya menganggap "That is the art of life and dreams". Berbagai rintangan itulah yang menjadikan motivasi untuk terus berjuang. Tercapainya impian itu sebenarnya bukanlah tujuan, tetapi mengalahkan rintangan itulah yang membuat saya akan merasakan kemenangan itu ada untukku.
Hari ini, saya mendapatkan satu impianku. Namun, di balik kebahagiaan ini, ada sebuah perjuangan yang akan ku tempuh. Ada pengorbanan yang akan sangat membutuhkan kesabaran dan kelapangan hati. Tapi saya percaya bahwa harapan itu selalu ada. Dan suatu hari nanti, harapan itu akan membawa impianku yang selanjutnya pada kenyataan.
Minggu, 20 Juni 2010
Fenomena Anak "Peminta-minta" di Kota Kendari
Setiap kali berada di tempat-tempat keramaian, seperti tempat perbelanjaan atau rumah makan, ada sebuah fenomena yang pasti akan kita jumpai. Sekelompok anak kecil berusia tujuh sampai dua belas tahun siap menghadang atau mengejar-ngejar kita sambil menengadahkan tangan mereka dan berkata "Bu/Pak/Kak minta uangnya!". Fenomena ini pada mulanya biasa terjadi di kota-kota besar yang padat penduduk, tetapi kini fenomena itupun terjadi di kota kecil, seperti kotaku "Kendari".
Aku masih ingat, pada awalnya "peminta-minta" di kota Kendari hanyalah orang-orang cacat yang biasa berada di pasar atau muncul di depan rumah-rumah ibadah pada saat hari raya. Tetapi lama-kelamaan "peminta-minta" semakin menjamur meliputi jumlah dan jenisnya. Jenisnya memang sangat variatif saat ini, mulai dari penderita cacat yang duduk di tempat-tempat tertentu, pria atau wanita setengah baya yang berkeliling ke rumah-rumah untuk meminta beras, pria atau wanita muda yang berkeliling ke rumah-rumah dan perkantoran dengan mengatasnamakan pembangunan rumah ibadah ataupun panti asuhan, dan yang sangat banyak adalah anak-anak kecil yang berhamburan di jalanan. Kita pasti pernah berjumpa dari salah satu atau beberapa jenis "peminta-minta" tersebut. Kadang kala perasaan kesal pun kita rasakan ketika sedang berjalan dan tiba-tiba di hadang atau ditarik-tarik untuk dimintai uang. Memberi sedekah pada yang kurang mampu memang perbuatan yang mulia, tetapi bila dengan cara "dimintai" seperti itu, tidak jarang ada perasaan tidak ikhlas pengaruh rasa kesal tersebut.
Anak-anak kecil yang berkeliaran di jalanan sebagai "peminta-minta" itu pada umumnya ramai pada siang hingga malam hari. Ya...tentu saja karena di pagi hari mereka bersekolah. Lantas, mengapa mereka "meminta-minta"? Apakah orang tua mereka mengetahuinya?
Suatu malam sepulang dari kantor, saya mampir ke sebuah toko. Begitu keluar dari toko itu, seperti biasa beberapa anak kecil menghadang saya sambil menengadahkan tangannya dan meminta uang. Karena tak ingin dikejar-kejar saya pun mengambil beberapa koin dan membagi-bagikannya pada anak-anak itu. Kemudian saya berdiri di depan sebuah toko untuk menunggu angkutan kota ke arah rumah saya. Anak-anak itu masih tampak di situ, mereka masih menunggu pengunjung toko yang keluar ataupun orang-orang yang lewat untuk dimintai uang. Tampak pula sesekali mereka bercanda dan bermain. Kemudian saya memberanikan diri bertanya pada seorang anak. "Siapa namamu?" Anak itupun menyebutkan namanya. Kemudian saya bertanya "Dimana kamu tinggal?" Anak itupun menyebutkan bahwa ia tinggal di kawasan pemukiman yang berada di belakang pertokoan itu. Lalu saya bertanya lagi "Apakah kamu sekolah?" Dan ia menjawab bahwa ia sekolah dan kemudian menyebutkan di kelas berapa ia saat ini. Tak berhenti sampai di situ aku bertanya lagi "Apa orang tuamu tau kamu meminta-minta? Apa mereka tidak mencarimu jam segini belum pulang? Ini sudah malam loh" Dan ia menjawab bahwa orang tuanya tau, dan mereka akan pulang ke rumah kalau suasana sudah sepi atau toko-toko sudah tutup.
Satu pemikiran muncul dalam benakku, bahwa mereka melakukan ini mungkin atas perintah dari orang tuanya. Tapi aku kembali berpikir, mungkinkah ada orang tua yang tega melakukan perintah seperti itu pada anaknya? Sepulang sekolah harus turun ke jalanan hingga malam hari, dan lebih parahnya sebagai "peminta-minta". Lantas kapan anak-anak ini akan punya waktu untuk belajar, mengerjakan pekerjaan rumahnya, ataupun melakukan aktivitas seperti anak-anak seusianya? Namun, pertanyaan itu tiba-tiba terjawab dengan sendirinya saat seorang wanita tiba-tiba muncul, dan salah seorang anak tiba-tiba berlari dan bersembunyi. Wanita tadi seperti berteriak memanggil nama seseorang, dan seorang anak pun berkata padanya "tadi dia ada di sini tante tapi sudah pergi lagi." Wanita itupun berkata "Carikan dia, bilang disuruh pulang sama mamanya, sudah malam." Tetapi wanita itu berkata dengan suara ketus dan raut wajah kesal. Sesaat kemudian anak kecil yang dicarinya pun muncul. Wanita itu dengan ketus memarahinya, dan anak itu tampak takut. Wanita itu bertanya "Mana uangnya?" Anak itupun menyerahkan kaleng berisi uang-uang koin kepada wanita yang disebutnya "Mama" itu. Wanita itu berkata "Dari siang sampai malam begini cuma segini yang kamu dapat?" Anak itupun menjawab "Seharian sepi Ma, pengunjung sedikit." Tetapi tiba-tiba seorang anak lainnya berkata "Ah tante dia bohong tuh, tadi ada kok uang seribuannya." Wanita itu langsung saja menyuruh anak itu mengeluarkan uang yang dimaksud temannya, dan dengan agak takut anak itupun mengeluarkan beberapa lembar uang seribuan yang memang disimpannya. Melihat itu, wanita itu pun memarahi anaknya lebih ketus lagi.
Miris.... Perasaan itulah yang ku rasakan. Seperti hendak menghakimi, dalam hati pun aku berkata "Ibu macam apa ini?" Tetapi ku coba renungkan kejadian itu, ibu itu pasti punya alasan melakukan itu pada anaknya. Ya...tak lain pasti faktor ekonomi. Dan kini, siapa yang harus dipersalahkan??? Jika ditanya, si orang tua pasti hanya menjawab, ini juga karena terpaksa karena kebutuhan yang harus dipenuhi sedangkan penghasilan sangat minim.
Ini adalah fenomena sosial yang tumbuh seperti jamur, berkembang dengan pesat. Masalah kesejahteraan masyarakat seharusnya jadi perhatian pemerintah. Terlebih lagi ini adalah masalah "Hak dan Perlindungan Anak". Jalanan bukanlah tempat seorang anak tumbuh. Jalanan terlalu keras untuk pembentukan mental dan kepribadian seorang anak.
Semoga saja ada jalan keluar untuk masalah ini...
Aku masih ingat, pada awalnya "peminta-minta" di kota Kendari hanyalah orang-orang cacat yang biasa berada di pasar atau muncul di depan rumah-rumah ibadah pada saat hari raya. Tetapi lama-kelamaan "peminta-minta" semakin menjamur meliputi jumlah dan jenisnya. Jenisnya memang sangat variatif saat ini, mulai dari penderita cacat yang duduk di tempat-tempat tertentu, pria atau wanita setengah baya yang berkeliling ke rumah-rumah untuk meminta beras, pria atau wanita muda yang berkeliling ke rumah-rumah dan perkantoran dengan mengatasnamakan pembangunan rumah ibadah ataupun panti asuhan, dan yang sangat banyak adalah anak-anak kecil yang berhamburan di jalanan. Kita pasti pernah berjumpa dari salah satu atau beberapa jenis "peminta-minta" tersebut. Kadang kala perasaan kesal pun kita rasakan ketika sedang berjalan dan tiba-tiba di hadang atau ditarik-tarik untuk dimintai uang. Memberi sedekah pada yang kurang mampu memang perbuatan yang mulia, tetapi bila dengan cara "dimintai" seperti itu, tidak jarang ada perasaan tidak ikhlas pengaruh rasa kesal tersebut.
Anak-anak kecil yang berkeliaran di jalanan sebagai "peminta-minta" itu pada umumnya ramai pada siang hingga malam hari. Ya...tentu saja karena di pagi hari mereka bersekolah. Lantas, mengapa mereka "meminta-minta"? Apakah orang tua mereka mengetahuinya?
Suatu malam sepulang dari kantor, saya mampir ke sebuah toko. Begitu keluar dari toko itu, seperti biasa beberapa anak kecil menghadang saya sambil menengadahkan tangannya dan meminta uang. Karena tak ingin dikejar-kejar saya pun mengambil beberapa koin dan membagi-bagikannya pada anak-anak itu. Kemudian saya berdiri di depan sebuah toko untuk menunggu angkutan kota ke arah rumah saya. Anak-anak itu masih tampak di situ, mereka masih menunggu pengunjung toko yang keluar ataupun orang-orang yang lewat untuk dimintai uang. Tampak pula sesekali mereka bercanda dan bermain. Kemudian saya memberanikan diri bertanya pada seorang anak. "Siapa namamu?" Anak itupun menyebutkan namanya. Kemudian saya bertanya "Dimana kamu tinggal?" Anak itupun menyebutkan bahwa ia tinggal di kawasan pemukiman yang berada di belakang pertokoan itu. Lalu saya bertanya lagi "Apakah kamu sekolah?" Dan ia menjawab bahwa ia sekolah dan kemudian menyebutkan di kelas berapa ia saat ini. Tak berhenti sampai di situ aku bertanya lagi "Apa orang tuamu tau kamu meminta-minta? Apa mereka tidak mencarimu jam segini belum pulang? Ini sudah malam loh" Dan ia menjawab bahwa orang tuanya tau, dan mereka akan pulang ke rumah kalau suasana sudah sepi atau toko-toko sudah tutup.
Satu pemikiran muncul dalam benakku, bahwa mereka melakukan ini mungkin atas perintah dari orang tuanya. Tapi aku kembali berpikir, mungkinkah ada orang tua yang tega melakukan perintah seperti itu pada anaknya? Sepulang sekolah harus turun ke jalanan hingga malam hari, dan lebih parahnya sebagai "peminta-minta". Lantas kapan anak-anak ini akan punya waktu untuk belajar, mengerjakan pekerjaan rumahnya, ataupun melakukan aktivitas seperti anak-anak seusianya? Namun, pertanyaan itu tiba-tiba terjawab dengan sendirinya saat seorang wanita tiba-tiba muncul, dan salah seorang anak tiba-tiba berlari dan bersembunyi. Wanita tadi seperti berteriak memanggil nama seseorang, dan seorang anak pun berkata padanya "tadi dia ada di sini tante tapi sudah pergi lagi." Wanita itupun berkata "Carikan dia, bilang disuruh pulang sama mamanya, sudah malam." Tetapi wanita itu berkata dengan suara ketus dan raut wajah kesal. Sesaat kemudian anak kecil yang dicarinya pun muncul. Wanita itu dengan ketus memarahinya, dan anak itu tampak takut. Wanita itu bertanya "Mana uangnya?" Anak itupun menyerahkan kaleng berisi uang-uang koin kepada wanita yang disebutnya "Mama" itu. Wanita itu berkata "Dari siang sampai malam begini cuma segini yang kamu dapat?" Anak itupun menjawab "Seharian sepi Ma, pengunjung sedikit." Tetapi tiba-tiba seorang anak lainnya berkata "Ah tante dia bohong tuh, tadi ada kok uang seribuannya." Wanita itu langsung saja menyuruh anak itu mengeluarkan uang yang dimaksud temannya, dan dengan agak takut anak itupun mengeluarkan beberapa lembar uang seribuan yang memang disimpannya. Melihat itu, wanita itu pun memarahi anaknya lebih ketus lagi.
Miris.... Perasaan itulah yang ku rasakan. Seperti hendak menghakimi, dalam hati pun aku berkata "Ibu macam apa ini?" Tetapi ku coba renungkan kejadian itu, ibu itu pasti punya alasan melakukan itu pada anaknya. Ya...tak lain pasti faktor ekonomi. Dan kini, siapa yang harus dipersalahkan??? Jika ditanya, si orang tua pasti hanya menjawab, ini juga karena terpaksa karena kebutuhan yang harus dipenuhi sedangkan penghasilan sangat minim.
Ini adalah fenomena sosial yang tumbuh seperti jamur, berkembang dengan pesat. Masalah kesejahteraan masyarakat seharusnya jadi perhatian pemerintah. Terlebih lagi ini adalah masalah "Hak dan Perlindungan Anak". Jalanan bukanlah tempat seorang anak tumbuh. Jalanan terlalu keras untuk pembentukan mental dan kepribadian seorang anak.
Semoga saja ada jalan keluar untuk masalah ini...
Sabtu, 12 Juni 2010
Manajemen Masa Lalu
Masa lalu adalah hal yang pasti ada pada setiap manusia. Masa lalu terkadang indah, tapi tak jarang juga sangat menyedihkan. Bila seseorang memiliki masa lalu yang indah, hal itu pasti akan senantiasa terkenang di hatinya. Dan sebaliknya pula, jika seseorang memiliki masa lalu yang menyedihkan maka ia akan terus berusaha menghapus dan melupakannya. Yang menjadi permasalahan adalah terkadang masa lalu yang menyedihkan itu tak mudah untuk dilupakan, butuh waktu yang cukup lama, dan memang hanya waktu yang dapat menghapusnya.
Masa lalu takkan mungkin terulang lagi, tetapi masa lalu akan menjadi refleksi untuk menggapai masa depan. Segala hal yang telah kita alami di masa lalu akan menjadi pelajaran berharga untuk membuat keputusan di masa depan. Jika di masa lalu kita pernah mengalami kegagalan, maka hal-hal yang membuat kita gagal itulah yang akan kita manajemen ke arah perbaikan guna mencapai keberhasilan di masa depan.
Manusia mengalami berbagai kejadian dalam hidupnya. Setiap permasalahan selalu mewarnai hidup. Permasalahan itu meliputi masalah dalam karir/pekerjaan, masalah dalam sekolah/pendidikan, masalah perekonomian, masalah politik, dan yang tak pernah luput adalah masalah percintaan. Setiap manusia pasti mengalami beberapa di antara permasalahan itu, dan kegagalan mungkin saja pernah terjadi. Salah satu contoh permasalahan yang banyak terjadi di masa lalu seseorang adalah masalah percintaan. Kita mungkin pernah mendengar kasus atau mungkin pernah mengalami sendiri kegagalan percintaan itu. Saya pernah menonton sebuah film dimana seorang wanita nekad bunuh diri hanya karena ia mengalami permasalahan percintaan, dimana kekasihnya menghianatinya dengan wanita lain. Ini mungkin sebuah contoh bahwa ia tak sanggup menerima kegagalan percintaannya sebagai masa lalunya bila ia terus melanjutkan hidupnya. Padahal, seandainya saja ia punya keyakinan hati bahwa ia dapat memanajemen masa lalunya, maka mungkin saja masa depan yang diperolehnya kelak akan lebih baik.
Jalan hidup setiap manusia memang telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Dan dari situlah Ia menguji kesanggupan kita untuk menjadi lebih baik. Ia memberi cobaan ataupun kebahagiaan di masa lalu ataupun masa kini sebagai bayangan masa depan yang tentunya ditentukan oleh langkah yang kita ambil sendiri. Jika kita rapuh atau terlena dalam kegagalan ataupun keberhasilan masa lalu dan masa kini, maka bayangan masa depan akan semakin tak tampak. Tetapi hendaklah masa lalu yang kita alami, apapun itu dapat kita manajemen dengan baik untuk harapan tercapainya masa depan yang lebih baik. Mari sahabatku, jangan pernah lelah untuk berjuang, jadikanlah masa lalu sebagai refleksi kita untuk menggapai masa depan impian kita. Semangat dan sukses untuk kita semua!!!
Masa lalu takkan mungkin terulang lagi, tetapi masa lalu akan menjadi refleksi untuk menggapai masa depan. Segala hal yang telah kita alami di masa lalu akan menjadi pelajaran berharga untuk membuat keputusan di masa depan. Jika di masa lalu kita pernah mengalami kegagalan, maka hal-hal yang membuat kita gagal itulah yang akan kita manajemen ke arah perbaikan guna mencapai keberhasilan di masa depan.
Manusia mengalami berbagai kejadian dalam hidupnya. Setiap permasalahan selalu mewarnai hidup. Permasalahan itu meliputi masalah dalam karir/pekerjaan, masalah dalam sekolah/pendidikan, masalah perekonomian, masalah politik, dan yang tak pernah luput adalah masalah percintaan. Setiap manusia pasti mengalami beberapa di antara permasalahan itu, dan kegagalan mungkin saja pernah terjadi. Salah satu contoh permasalahan yang banyak terjadi di masa lalu seseorang adalah masalah percintaan. Kita mungkin pernah mendengar kasus atau mungkin pernah mengalami sendiri kegagalan percintaan itu. Saya pernah menonton sebuah film dimana seorang wanita nekad bunuh diri hanya karena ia mengalami permasalahan percintaan, dimana kekasihnya menghianatinya dengan wanita lain. Ini mungkin sebuah contoh bahwa ia tak sanggup menerima kegagalan percintaannya sebagai masa lalunya bila ia terus melanjutkan hidupnya. Padahal, seandainya saja ia punya keyakinan hati bahwa ia dapat memanajemen masa lalunya, maka mungkin saja masa depan yang diperolehnya kelak akan lebih baik.
Jalan hidup setiap manusia memang telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Dan dari situlah Ia menguji kesanggupan kita untuk menjadi lebih baik. Ia memberi cobaan ataupun kebahagiaan di masa lalu ataupun masa kini sebagai bayangan masa depan yang tentunya ditentukan oleh langkah yang kita ambil sendiri. Jika kita rapuh atau terlena dalam kegagalan ataupun keberhasilan masa lalu dan masa kini, maka bayangan masa depan akan semakin tak tampak. Tetapi hendaklah masa lalu yang kita alami, apapun itu dapat kita manajemen dengan baik untuk harapan tercapainya masa depan yang lebih baik. Mari sahabatku, jangan pernah lelah untuk berjuang, jadikanlah masa lalu sebagai refleksi kita untuk menggapai masa depan impian kita. Semangat dan sukses untuk kita semua!!!
Langganan:
Postingan (Atom)