Rabu, 30 Januari 2013

Tentang Putera Pertamaku

Putera pertamaku lahir tanggal 7 Juni 2012 di sebuah rumah sakit bernama Dewi Sartika di Kota Kendari.  Ia lahir melalui proses persalinan normal dengan berat 3,2 kg dan panjang 49 cm.  Kami kemudian memberinya nama Marva Darrell Junio Santoso, sebuah nama yang Mommy dan Poppy-nya telah persiapkan untuknya.  Nama yang sangat bermakna dan semoga bisa bermanfaat untuknya di masa depannya kelak.  Marva dalam bahasa Latin berarti "bagus", Darrell dalam bahasa Perancis berarti "belahan jiwa", Junio menandakan bulan kelahirannya serta berarti "turunan" dan Santoso adalah nama belakang Poppy-nya yang berarti "kuat, sejahtera".

Kami kemudian memanggilnya Darrell, tapi sejak dalam kandungan kami sering memanggilnya Tole, dan nama itu menjadi populer hingga ia lahir, hehehe.  Puteraku kini berusia 7 bulan, ia tumbuh menjadi bayi laki-laki yang tampan, lincah, dan cerdas.  Tingkat penangkapannya akan sesuatu cukup cepat, walaupun terkadang hyperactive-nya membuat kami kewalahan.  Tapi Darrell sebenarnya adalah anak yang sabar, karena saat dia sedang kurang sehat seperti badannya panas, Darrell sangat jarang menangis. Mungkin saja itu salah satu sifat turunan dari Mommy-nya, hehehe.

Puteraku Darrell, tumbuhlah menjadi anak yang baik Nak.  Berprestasilah kelak agar kami semakin bangga padamu. Jadilah anak yang santun bertutur kata, berbudi pekerti luhur, pekerja keras, pantang menyerah, cerdas dan mandiri.  Doa kami akan selalu menyertaimu.


Senin, 19 November 2012

Sengsaraku

Aku berjalan terseok-seok
Dengan beban berat di pundakku
Begitu beratnya hingga kepalaku tak mampu tengadah

Aku berjalan lelah lunglai
Dengan kepala dan seluruh tubuhku berpeluh
Aku tertunduk malu

Di sepanjang jalan itu
Berpasang-pasang mata memandangku
Dengan tatapan sinis
Dengan celetuk hinaan dan cemooh
Dan aku tetap berjalan

Batinku merintih...
Perihnya luka di tubuhku tak seperih luka di hatiku
Menangispun aku tak sanggup
Berkeluh kesah tiada guna

Wahai Engkau Sang Pencipta
Wahai Engkau Sang Kuasa
Wahai Engkau Yang ku Cinta, ku agungkan, ku puja
Ampunkanlah mereka yang mencelaku
Ampunkanlah mereka yang menghinaku
Ampunkanlah mereka yang memandangku begitu rendahnya
Karena sesungguhnya mereka tak tahu
Apa yang sedang mereka perbuat

Rabu, 14 Maret 2012

Drama Pengadilan "Nenek Mencuri Singkong"


Di ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dg alasan agar menjadi cnth bagi warga lainnya.

NENEK SINGKONG
Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.

”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”.

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.

‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.

“Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”

sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan ke panitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagian dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.

Semoga di indonesia banyak hakim-hakim yang berhati mulia sepertii ini.

Kamis, 11 Agustus 2011

Hanya Debulah Aku

Angin bertiup menghempaskan aku
Membuatku tersungkur, buruk
Teronggok tak terperhatikan
Terburai seperti kotoran

Hanya debulah aku
Karena laku-ku yang kotor
Karena fikir-ku yang picik
Karena aku tiada berguna

Aku hanya membuat perih
Hingga air mata keluar karena aku
Perbuatanku menyisakan kecewa
Hingga semua tak berarti

Hanya debulah aku
Karena jiwaku sudah mati
Ragaku pun menjadi abu
Tertiup angin menjadi debu jalanan

Kamis, 04 Agustus 2011

Belahan Jiwa yang Ku Cari

Jika kamu bertanya padaku

Seperti apakah belahan jiwa yang ku cari

Pendamping hidup yang ku inginkan

Sesempurna apakah dirinya


Aku takkan memilih pria yang tampan

Karena pria yang tampan selalu mencari

Wanita tercantik untuknya

Dan aku tak cukup cantik

Aku takkan memilih pria kaya raya

Karena pria yang berharta akan menegakkan kepalanya

Bersikap angkuh karena dapat membeli cinta

Dan cintaku tak untuk dijual


Aku mencari seseorang

Yang memayungi kepalaku saat hujan dan panas

Yang meyelimuti tubuhku saat kedinginan

Yang memberiku makan dan minum saat lapar dan haus

Yang memberiku obat saat sakit

Yang memberiku penghiburan saat bersedih

Yang turut menangis bersamaku saat berduka

Yang takkan pernah meninggalkanku

Hanya karena suatu kekurangan

Dan yang akan tinggal bersamaku

Sejak matahari terbit hingga terbenam

Selamanya…

Jumat, 08 April 2011

Saat Sayap Peri Kecil Patah

Alkisah peri yang cantik dan baik hati, memiliki sayap yang indah serta nyanyian peri yang merdu. Suatu hari peri kecil merasa sangat bahagia, ia terbang ke sana kemari. Ia sedang berada di suatu tempat yang baru, sebuah hutan kecil yang begitu indah, ia berharap akan menemukan kawan-kawan baru di tempat itu. Ia pun mulai tersenyum dan menyapa setiap makhluk yang dijumpainya. Dengan segala keramahannya ia berusaha untuk berbaur dengan lingkungan barunya itu. Akan tetapi, apakah yang terjadi? Ternyata makhluk-makhluk baru itu tak menyambutnya dengan hangat, mereka justru saling berbisik-bisik ketika bertemu dengan si peri kecil.
"Coba lihat dia tersenyum pada kita, dia pikir senyumnya itu manis?".
"Dan lihatlah sayapnya, warnanya biasa-biasa saja, tapi dia merasa cantik."
Awalnya sang peri kecil tak bersedih dengan perlakuan yang diterimanya, sebab ia yakin pada suatu hari nanti, kawan-kawan barunya itu akan menyayangi dirinya. Hari demi hari pun berganti, tetapi sikap dan yang perlakuan yang diterima peri kecil tiada juga berubah, bahkan segala hinaan dan ketidakramahan pun diterimanya hingga pada suatu hari makhluk-makhluk hutan itu sepakat untuk lebih menyakiti si peri kecil. Mereka memasang sebuah jebakan untuk peri kecil, kemudian dengan sebuah siasat, mereka memanggil peri kecil untuk datang ke tempat itu. Ketika peri kecil datang, tanpa disadarinya bahwa ia memasuki wilayah jebakan itu, sang peri pun terjatuh dan sayapnya patah. Peri kecil merasa sangat kesakitan dan ia berteriak meminta pertolongan, tetapi tak satupun yang datang menolongnya. Peri kecil merasa sangat sedih. Ia pun berdoa pada Sang Pencipta agar segera menyembuhkan sayapnya yang patah. Ia berdoa tiada henti dengan air mata berlinangan di pipinya bahkan membasahi sekujur tubuhnya. Dalam doanya itu, tiba-tiba muncullah Ibu Peri dan menyembuhkan sayap si peri kecil. Peri Kecil pun merasa sangat bahagia, ia pun mengucapkan terima kasih pada ibu peri.
"Terima kasih ibu peri, telah menyembuhkan sayapku yang patah."
"Kau pantas menerimanya peri kecil, kau adalah peri kecil berhati baik, tak pantas menerima semua pesakitan ini. Dan sekarang katakanlah padaku apa yang kau kehendaki padaku agar ku lakukan pada makhluk-makhluk hutan ini yang telah menyakitimu."
"Tidak ibu peri, aku tak ingin membalas perbuatan mereka. Aku sedah merasa bersyukur dengan kesembuhan sayapku ini."
"Hatimu sungguh baik wahai peri kecil, dan sekarang terbanglah, tinggalkan tempat ini, kau akan menemukan sebuah tempat yang lebih baik dimana semua penghuninya akan menyayangimu."

Peri kecil pun terbang meninggalkan tempat itu, menuju sebuah hutan kecil yang lebih indah dan damai. Dan ia pun menemukan sahabat-sahabat baru yang menyayanginya d tempat itu.

Dan apakah yang terjadi dengan hutan yang ditinggalkannya? Ternyata dengan tongkat saktinya, Ibu Peri telah mengutuk hutan itu menjadi sebuah hutan yang kering. Tak ada lagi rumput-rumput hijau dan bunga-bunga indah. Penghuninya pun hidup sangat menderita akibat kekeringan itu.

Rabu, 16 Maret 2011

Aku dan Inginku Akan Mu

Aku yang selama ini kau kenal
Adalah bukan aku

Aku yang selalu marah
Sesungguhnya karena ku butuh perhatianmu
Bila ku berkata salah... Itu berarti benar
Bila ku bilang tidak... Itu adalah iya

Bila ku berlari ke jalanan, ku ingin kau mengejarku...
Bila ku menyuruhmu pergi, ku mau kau terus mencariku...

Ku tak ingin hanya menatapmu dari pantulan cermin atau gelas
Ku tak ingin hanya melihatmu melalui bayangan air di tepi danau
Ku ingin kau seperti kaca pelita yang selalu berada di sekitarku
Menjagaku dari hembusan angin yang akan memadamkan cahaya lilinku

Aku begitu... karena ku terlalu mencintaimu
Jangan pernah tinggalkan aku lagi...