Senin, 06 September 2010

Kepergianku

Telah begitu banyak peristiwa
Telah begitu banyak kejadian
Ada suka, ada duka
Ada kebahagiaan, ada nestapa

Aku adalah seorang pemimpi
Yang ku inginkan hanya bahagia
Bahagia di antara orang yang bahagia
Bahagia di dalam tawa orang yang takkan menangis

Aku punya banyak mimpi
Mimpi yang indah untukku dan mereka yang ku kasihi
Mimpi yang tak terlalu mudah untuk ku capai
Mimpi yang membuatku harus berkorban

Dan kini...
Aku akan lari sedapat mungkin aku berlari
Aku akan menghilang sedapat mungkin aku menghilang
Untuk mengejar mimpi-mimpiku

Aku lari dari masa lalu
Aku menghilang dari yang pernah ada padaku
Dan mereka takkan melihatku lagi
Hingga ku kembali
Bersama mimpiku yang telah menyata
Dalam kepergianku...

Udara

Aku bernafas karena kamu
Aku bertahan karena kau ada
Aku bermimpi dan berharap
Karena kamu...

Setiap fikirku ada kamu
Setiap hayalku kamu hadir
Setiap inginku bersamamu
Untuk kamu...

Kau udara
Mengisi hidupku
Kau cahaya
Penerang jiwaku
Jangan pernah tinggalkan aku
Walau hanya sesaat saja
karena kau... Udaraku...

Minggu, 15 Agustus 2010

Sekilas Tentang Raha

Raha adalah ibukota dari kabupaten Muna, salah satu kabupaten di propinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Kota ini tidak begitu luas. Kota Raha nyaris tak dikenal masyarakat luas. Dia bukan kota dagang, juga bukan kota wisata. Raha hanya sebuah kota kecamatan yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Muna sejak tahun 1960. Pada saat air surut, Raha ketambahan daratan pantai selebar 800-1.000 meter ke arah laut Selat Buton. Namun, daratan semu itu cenderung menjadi kawasan kumuh akibat limpahan sampah dan limbah rumah tangga warga kota. Sampah dan limbah bersumber pula dari pelabuhan yang berlokasi di pantai tersebut. Selama jangka waktu yang lama, daerah pelabuhan Raha menjadi tempat pedagang kaki lima menjajakan bahan makanan dan aneka kebutuhan lainnya kepada penumpang kapal lokal yang transit di sana. Bahkan, kehidupan malam kota Raha di masa lalu sebetulnya hanya berdenyut di daerah pelabuhan dengan kehadiran pedagang kaki lima, mulai sore hingga pukul 22.00 Wita. Waktu tersebut merupakan jadwal kedatangan kapal-kapal penumpang dari Kendari dan Bau-Bau. Selepas waktu tersebut, Raha kembali senyap.

Aktivitas warga di siang hari lebih diwarnai kegiatan kantor pemerintahan. Kegiatan bisnis hanya terpusat di kompleks Pecinan dengan jejeran puluhan petak rumah toko. Warga Tionghoa tersebut dibawa Belanda dari Jawa dalam rangka menghadirkan kelas sosial menengah sebagai mitra pemerintah kolonial di wilayah onderafdeling Muna.

Kawasan olahraga Daerah pasang surut itu pada tahun 2002 oleh Bupati Muna Ridwan digagas menjadi kawasan pengembangan sarana olahraga yang dapat dibanggakan bukan saja rakyat dan pemerintah Kabupaten Muna tetapi juga Sulawesi Tenggara. Pembangunan kawasan olahraga dengan penyediaan sarana dan fasilitas modern diharapkan menjadi daya tarik sehingga makin banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke kota kecil di tepi Selat Buton itu. Maka, Raha pun kini tampak menggeliat, berusaha bangkit dari tidur yang panjang. Daerah pasang surut dengan luas sekitar 200 hektar mulai diuruk dan dibangun bertahap menjadi kawasan tertata rapi dan membuat kota itu bersinar dipandang dari laut. Untuk mengabadikan Raja Muna yang terakhir, kawasan itu diberi nama Kawasan Olahraga La Ode Pandu. Di kawasan itu sekarang berdiri megah gedung olahraga serbaguna berkapasitas 3.000 orang, stadion kolam renang berdaya tampung 1.000 penonton dengan menara loncat indah standar nasional, dan sebuah kolam arena dayung. Sebagai uji coba upaya membangkitkan Raha menjadi kota wisata bernuansa olahraga, Pemerintah Kabupaten Muna menyelenggarakan Porda (Pekan Olahraga Daerah) Provinsi Sulawesi Tenggara pada bulan Juli 2007. Pada saat membuka pekan olahraga itulah Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault mendeklarasikan Raha sebagai pusat pengembangan olahraga perairan di kawasan timur Indonesia. Pertimbangannya, Raha telah memiliki sarana dan fasilitas olahraga perairan yang memadai seperti cabang dayung, renang, loncat indah, polo air, selam, dan ski air. Bukan cuma itu, Kabupaten Muna selama ini menjadi gudang atlet dayung berprestasi di tingkat nasional, Asia Tenggara, dan dunia. Tercatat, misalnya, Jumina dan Hasima adalah srikandi Indonesia asal Muna yang pernah mengukir emas di pekan olahraga Asia Tenggara beberapa tahun silam. Khusus kolam arena dayung, seperti dikatakan Ketua KONI Kabupaten Muna Laode Saera, Menteri Adhyaksa menjanjikan dana pembangunan bagi peningkatan dan penyempurnaan sarana maupun fasilitas yang telah dibangun pemerintah kabupaten. Kolam arena dayung tersebut akan diperluas dari 1.150 x 100 meter menjadi 2.200 x 120 meter. Fasilitas yang harus dibangun antara lain hanggar perahu, tribun, menara kontrol, asrama atlet, dan ruang latihan fisik para atlet. Kawasan Olahraga La Ode Pandu masih akan dilengkapi dengan sebuah stadion olahraga untuk cabang sepak bola. Tetapi, proyek ini ditempatkan pada urutan berikutnya setelah program pembangunan sarana dan fasilitas olahraga perairan. Di kawasan itu disediakan pula kapling untuk pembangunan industri perhotelan, restoran, dan pusat perbelanjaan. Para pemilik modal diharapkan berminat melakukan investasi di kawasan siap bangun tersebut. Upaya Bupati Ridwan mendobrak kebekuan kota Raha dinilai banyak pihak cukup berhasil. Kawasan Olahraga La Ode Pandu telah berfungsi sebagai ruang publik, obyek rekreasi bagi warga kota yang kini sekitar 110.000 jiwa. Obyek paling ramai adalah stadion renang. Seperti dijelaskan seorang penjual karcis di pintu masuk stadion itu, pengunjung berkisar 300-500 orang setiap hari. Pada hari libur bisa mencapai 700-1.000 orang. Kebanyakan dari kelompok anak-anak dan remaja yang belajar renang dan loncat indah. Pengunjung gedung serbaguna juga banyak, umumnya para pencinta olahraga bulu tangkis. Secara fungsional, bangunan gedung tersebut didesain untuk penyelenggaraan kejuaraan cabang bulu tangkis, bola voli, dan bela diri.Untuk lebih menggairahkan kota Raha sebagai kota wisata olahraga, Pemerintah Kabupaten Muna bersama KONI setempat tinggal meningkatkan lobi dan melakukan koordinasi intensif dengan pengurus cabang olahraga tingkat provinsi maupun pusat terkait kesiapan kota itu menjadi tuan rumah penyelenggaraan kejuaraan daerah, regional, dan nasional.

Terkait dengan event 2009 itu, Pemda Muna berusaha mengoperasikan kembali Bandara Sugimanuru, 26 kilometer dari kota Raha. Bandara tersebut pernah dioperasikan pada tahun 1980-an untuk melayani penerbangan perintis. Lokasi Raha sebetulnya cukup strategis karena dapat dijangkau transportasi darat dan laut. Dari Kota Kendari atau Bau-Bau, kota itu bisa dicapai dengan mobil melalui lintas penyeberangan Torobulu-Tampo, atau Bau-Bau- Wamengkoli. Pelabuhan Raha juga dilalui kapal penumpang rute Kendari-Bau-Bau dengan frekuensi dua kali sehari.

Untuk dalam kota Raha alat transportasi yang umum digunakan masyarakat adalah motor "ojek". Adapula beberapa unit taksi yang beroperasi. Tidak adanya alat transportasi angkutan kota dikarenakan wilayah kota Raha yang tidak terlalu luas serta banyaknya potongan perempatan jalan sehingga tidak memungkinkan untuk penggunaan alat transportasi angkutan kota (trayek tidak jelas).
Inilah sekilas tentang kota Raha, masih banyak lagi yang akan dibahas seperti tentang wisata pantainya. Tapi itu akan dibahas pada kesempatan berikutnya berhubung penulis sendiri belum pernah berkunjung ke tempat wisata pantainya, wkwkwk.

Nantikan saja posting selanjutnya ya......

Sabtu, 14 Agustus 2010

Bayangan dalam Air Hujan

Hujan rintik-rintik masih turun
Masih terasa tubuh ini basah
Jika terus tak berlindung
Tapi suara hati memang masih mengenang
Saat ketika langit masih cerah
Hingga akhirnya hujan deraspun turun

Hujan memang kini tak deras lagi
Namun serpihan air kesedihan masih terasa
Karena rasa kehilangan
Dia yang telah hadir sebagai pengobat hati
Yang pernah terluka parah
Karena ketidakjujuran

Dia yang menyisakan sesak di pernapasanku
Karena sesungguhnya hati masih merindu
Namun dia telah mengabaikanku
Membiarkanku berdiri di dalam rintik hujan ini
Terpuruk dalam kesetiaan hati
Serta pengorbanan untuk menunggu

Dan suatu ketika...
Ketika tubuhku mulai lunglai
Basah kuyup dalam penantian
Aku melihat sesuatu yang muncul
Ada bayangan dalam air hujan

Bayangan yang hanya terlihat samar
Menyatakan bahwa ia tak berada dekat denganku
Ia sangat jauh, dan aku tak dapat menyentuhnya
Dengan tanganku.... Dengan ragaku....

Namun....
Bayangan itu terasa dekat dengan hatiku
Sangat dekat....
Karena aku merasakan
Ia memayungiku dari rintik hujan
Ia menyelimuti hatiku yang beku
Hingga ku merasa hangat
Dan aku melihat goresan pena di langit
Warna-warni pelangi...

Ia hadir bagai sepercik cahaya kilat
Seketika membuatku tersadar
Bahwa aku masih punya hati
Untuk merasakan hangatnya udara
Tak terus berdiam diri, terpaku pasrah
Dalam derai hujan kesedihan

Ia memang hanya sebuah bayangan dalam air
Tapi suatu hari nanti...
Aku pasti dapat menyentuhnya dengan tanganku
Memeluk dan merengkuhnya dalam tubuhku
Dan takkan pernah melepaskannya
Agar hujan tak turun lagi
Dan pelangi terus mewarnai hatiku...

Rabu, 07 Juli 2010

Harapan Itu Selalu Ada

Waktu kecil, saya selalu punya impian. Impian anak kecil begitu indah. Dalam bermimpi, yang ku percaya bahwa ada harapan di dalamnya. Sebuah mimpi dengan sebuah harapan menjadi imajinasi yang mendekati kenyataan. Setiap hari, sebelum tidur, saya pasti selalu memikirkannya, menghayalkannya, membawa diriku semakin dekat untuk menggapainya.

Dalam menggapai impian itu, tak selamanya jalan yang ku lalui mulus dan lancar. Kadang kala ada kerikil, bebatuan bahkan tak jarang bertemu jurang yang curam. Bahkan saya pun pernah terjatuh dan terluka. Namun itu semua, bukan dijadikan alasan untuk menyerah, justru saya menganggap "That is the art of life and dreams". Berbagai rintangan itulah yang menjadikan motivasi untuk terus berjuang. Tercapainya impian itu sebenarnya bukanlah tujuan, tetapi mengalahkan rintangan itulah yang membuat saya akan merasakan kemenangan itu ada untukku.

Hari ini, saya mendapatkan satu impianku. Namun, di balik kebahagiaan ini, ada sebuah perjuangan yang akan ku tempuh. Ada pengorbanan yang akan sangat membutuhkan kesabaran dan kelapangan hati. Tapi saya percaya bahwa harapan itu selalu ada. Dan suatu hari nanti, harapan itu akan membawa impianku yang selanjutnya pada kenyataan.

Minggu, 20 Juni 2010

Fenomena Anak "Peminta-minta" di Kota Kendari

Setiap kali berada di tempat-tempat keramaian, seperti tempat perbelanjaan atau rumah makan, ada sebuah fenomena yang pasti akan kita jumpai. Sekelompok anak kecil berusia tujuh sampai dua belas tahun siap menghadang atau mengejar-ngejar kita sambil menengadahkan tangan mereka dan berkata "Bu/Pak/Kak minta uangnya!". Fenomena ini pada mulanya biasa terjadi di kota-kota besar yang padat penduduk, tetapi kini fenomena itupun terjadi di kota kecil, seperti kotaku "Kendari".

Aku masih ingat, pada awalnya "peminta-minta" di kota Kendari hanyalah orang-orang cacat yang biasa berada di pasar atau muncul di depan rumah-rumah ibadah pada saat hari raya. Tetapi lama-kelamaan "peminta-minta" semakin menjamur meliputi jumlah dan jenisnya. Jenisnya memang sangat variatif saat ini, mulai dari penderita cacat yang duduk di tempat-tempat tertentu, pria atau wanita setengah baya yang berkeliling ke rumah-rumah untuk meminta beras, pria atau wanita muda yang berkeliling ke rumah-rumah dan perkantoran dengan mengatasnamakan pembangunan rumah ibadah ataupun panti asuhan, dan yang sangat banyak adalah anak-anak kecil yang berhamburan di jalanan. Kita pasti pernah berjumpa dari salah satu atau beberapa jenis "peminta-minta" tersebut. Kadang kala perasaan kesal pun kita rasakan ketika sedang berjalan dan tiba-tiba di hadang atau ditarik-tarik untuk dimintai uang. Memberi sedekah pada yang kurang mampu memang perbuatan yang mulia, tetapi bila dengan cara "dimintai" seperti itu, tidak jarang ada perasaan tidak ikhlas pengaruh rasa kesal tersebut.

Anak-anak kecil yang berkeliaran di jalanan sebagai "peminta-minta" itu pada umumnya ramai pada siang hingga malam hari. Ya...tentu saja karena di pagi hari mereka bersekolah. Lantas, mengapa mereka "meminta-minta"? Apakah orang tua mereka mengetahuinya?
Suatu malam sepulang dari kantor, saya mampir ke sebuah toko. Begitu keluar dari toko itu, seperti biasa beberapa anak kecil menghadang saya sambil menengadahkan tangannya dan meminta uang. Karena tak ingin dikejar-kejar saya pun mengambil beberapa koin dan membagi-bagikannya pada anak-anak itu. Kemudian saya berdiri di depan sebuah toko untuk menunggu angkutan kota ke arah rumah saya. Anak-anak itu masih tampak di situ, mereka masih menunggu pengunjung toko yang keluar ataupun orang-orang yang lewat untuk dimintai uang. Tampak pula sesekali mereka bercanda dan bermain. Kemudian saya memberanikan diri bertanya pada seorang anak. "Siapa namamu?" Anak itupun menyebutkan namanya. Kemudian saya bertanya "Dimana kamu tinggal?" Anak itupun menyebutkan bahwa ia tinggal di kawasan pemukiman yang berada di belakang pertokoan itu. Lalu saya bertanya lagi "Apakah kamu sekolah?" Dan ia menjawab bahwa ia sekolah dan kemudian menyebutkan di kelas berapa ia saat ini. Tak berhenti sampai di situ aku bertanya lagi "Apa orang tuamu tau kamu meminta-minta? Apa mereka tidak mencarimu jam segini belum pulang? Ini sudah malam loh" Dan ia menjawab bahwa orang tuanya tau, dan mereka akan pulang ke rumah kalau suasana sudah sepi atau toko-toko sudah tutup.

Satu pemikiran muncul dalam benakku, bahwa mereka melakukan ini mungkin atas perintah dari orang tuanya. Tapi aku kembali berpikir, mungkinkah ada orang tua yang tega melakukan perintah seperti itu pada anaknya? Sepulang sekolah harus turun ke jalanan hingga malam hari, dan lebih parahnya sebagai "peminta-minta". Lantas kapan anak-anak ini akan punya waktu untuk belajar, mengerjakan pekerjaan rumahnya, ataupun melakukan aktivitas seperti anak-anak seusianya? Namun, pertanyaan itu tiba-tiba terjawab dengan sendirinya saat seorang wanita tiba-tiba muncul, dan salah seorang anak tiba-tiba berlari dan bersembunyi. Wanita tadi seperti berteriak memanggil nama seseorang, dan seorang anak pun berkata padanya "tadi dia ada di sini tante tapi sudah pergi lagi." Wanita itupun berkata "Carikan dia, bilang disuruh pulang sama mamanya, sudah malam." Tetapi wanita itu berkata dengan suara ketus dan raut wajah kesal. Sesaat kemudian anak kecil yang dicarinya pun muncul. Wanita itu dengan ketus memarahinya, dan anak itu tampak takut. Wanita itu bertanya "Mana uangnya?" Anak itupun menyerahkan kaleng berisi uang-uang koin kepada wanita yang disebutnya "Mama" itu. Wanita itu berkata "Dari siang sampai malam begini cuma segini yang kamu dapat?" Anak itupun menjawab "Seharian sepi Ma, pengunjung sedikit." Tetapi tiba-tiba seorang anak lainnya berkata "Ah tante dia bohong tuh, tadi ada kok uang seribuannya." Wanita itu langsung saja menyuruh anak itu mengeluarkan uang yang dimaksud temannya, dan dengan agak takut anak itupun mengeluarkan beberapa lembar uang seribuan yang memang disimpannya. Melihat itu, wanita itu pun memarahi anaknya lebih ketus lagi.

Miris.... Perasaan itulah yang ku rasakan. Seperti hendak menghakimi, dalam hati pun aku berkata "Ibu macam apa ini?" Tetapi ku coba renungkan kejadian itu, ibu itu pasti punya alasan melakukan itu pada anaknya. Ya...tak lain pasti faktor ekonomi. Dan kini, siapa yang harus dipersalahkan??? Jika ditanya, si orang tua pasti hanya menjawab, ini juga karena terpaksa karena kebutuhan yang harus dipenuhi sedangkan penghasilan sangat minim.

Ini adalah fenomena sosial yang tumbuh seperti jamur, berkembang dengan pesat. Masalah kesejahteraan masyarakat seharusnya jadi perhatian pemerintah. Terlebih lagi ini adalah masalah "Hak dan Perlindungan Anak". Jalanan bukanlah tempat seorang anak tumbuh. Jalanan terlalu keras untuk pembentukan mental dan kepribadian seorang anak.

Semoga saja ada jalan keluar untuk masalah ini...

Sabtu, 12 Juni 2010

Manajemen Masa Lalu

Masa lalu adalah hal yang pasti ada pada setiap manusia. Masa lalu terkadang indah, tapi tak jarang juga sangat menyedihkan. Bila seseorang memiliki masa lalu yang indah, hal itu pasti akan senantiasa terkenang di hatinya. Dan sebaliknya pula, jika seseorang memiliki masa lalu yang menyedihkan maka ia akan terus berusaha menghapus dan melupakannya. Yang menjadi permasalahan adalah terkadang masa lalu yang menyedihkan itu tak mudah untuk dilupakan, butuh waktu yang cukup lama, dan memang hanya waktu yang dapat menghapusnya.

Masa lalu takkan mungkin terulang lagi, tetapi masa lalu akan menjadi refleksi untuk menggapai masa depan. Segala hal yang telah kita alami di masa lalu akan menjadi pelajaran berharga untuk membuat keputusan di masa depan. Jika di masa lalu kita pernah mengalami kegagalan, maka hal-hal yang membuat kita gagal itulah yang akan kita manajemen ke arah perbaikan guna mencapai keberhasilan di masa depan.

Manusia mengalami berbagai kejadian dalam hidupnya. Setiap permasalahan selalu mewarnai hidup. Permasalahan itu meliputi masalah dalam karir/pekerjaan, masalah dalam sekolah/pendidikan, masalah perekonomian, masalah politik, dan yang tak pernah luput adalah masalah percintaan. Setiap manusia pasti mengalami beberapa di antara permasalahan itu, dan kegagalan mungkin saja pernah terjadi. Salah satu contoh permasalahan yang banyak terjadi di masa lalu seseorang adalah masalah percintaan. Kita mungkin pernah mendengar kasus atau mungkin pernah mengalami sendiri kegagalan percintaan itu. Saya pernah menonton sebuah film dimana seorang wanita nekad bunuh diri hanya karena ia mengalami permasalahan percintaan, dimana kekasihnya menghianatinya dengan wanita lain. Ini mungkin sebuah contoh bahwa ia tak sanggup menerima kegagalan percintaannya sebagai masa lalunya bila ia terus melanjutkan hidupnya. Padahal, seandainya saja ia punya keyakinan hati bahwa ia dapat memanajemen masa lalunya, maka mungkin saja masa depan yang diperolehnya kelak akan lebih baik.

Jalan hidup setiap manusia memang telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Dan dari situlah Ia menguji kesanggupan kita untuk menjadi lebih baik. Ia memberi cobaan ataupun kebahagiaan di masa lalu ataupun masa kini sebagai bayangan masa depan yang tentunya ditentukan oleh langkah yang kita ambil sendiri. Jika kita rapuh atau terlena dalam kegagalan ataupun keberhasilan masa lalu dan masa kini, maka bayangan masa depan akan semakin tak tampak. Tetapi hendaklah masa lalu yang kita alami, apapun itu dapat kita manajemen dengan baik untuk harapan tercapainya masa depan yang lebih baik. Mari sahabatku, jangan pernah lelah untuk berjuang, jadikanlah masa lalu sebagai refleksi kita untuk menggapai masa depan impian kita. Semangat dan sukses untuk kita semua!!!